Saturday, October 6, 2018

Surat untuk September

September ceria, september penuh cerita, aku bersyukur atas segala nikmat yang telah Tuhan berikan kepadaku di bulan kelahiranku.
Aku bersyukur telah dilahirkan ke dunia oleh seorang wanita yang hebat yang darinya aku belajar kesabaran, perjuangan, kebaikan, dan banyak hal.
Aku bersyukur karena aku telah sampai di titik ini, tetapi aku tidak berpuas diri aku tetap harus melakukan yang terbaik di hari-hariku.
Aku bersyukur karena aku dikelilingi oleh orang-orang baik yang dari mereka aku belajar banyak hal.
Aku bahagia karena aku sadar bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku.
Beban yang berat terasa ringan karena aku menyadari bahwa banyak orang yang mendukungku.
Isak tangis yang selalu mewarnai malam-malamku akan berganti dengan senyum bahagia.
Aku akan menyusun rencana baru, visi misi baru, tujuan hidup yang baru. Ya, aku harus berharapan baik pada Tuhan.
Aku akan melangkah dengan semangat baru, harapan yang baru, dan mimpi yang baru.
Aku akan membanggakan orang-orang yang kusayangi, aku harus bisa!
Aku akan berjalan dengan keberanian melangkah menuju kesuksesanku!
Dan satu hal yang harus aku ingat bahwa aku tidak boleh dan tidak akan menyerah!
Doakan aku selalu...


Baca Selengkapnya

Wednesday, September 19, 2018

Surat untuk Agustus


Mengapa kau mendiamkanku lagi?
Ada apa denganmu?
Pertanyaan itu selalu terlintas di benakku
Apakah kau tahu bahwa aku mengkhawatirkanmu?
Namun nampaknya kau tak mengacuhkanku
Mengapa? Aku bingung sendiri...
Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti!
Apakah aku salah?
Jika tidak, lantas mengapa?
Baru sekejap saja aku merasakan bahagia, bisa bertemu kamu lagi, bisa bercakap lagi, lalu tiba-tiba hilang lagi!
Mengapa harus aku?
Mengapa tak ada waktu untuk aku?
Tidakkah kamu tahu bahwa aku butuh kamu!
Aku sangat rindu!
Mengapa tidak kau temaniku melawati masa-masa terberat dalam hidupku?
Mengapa kita tidak berjalan beringinan, bergandengan tangan
Mengapa memilih pergi?
Atau jikalau kau sedang berada di dalam masa-masa terberatmu, mengapa tidak kau bagi saja denganku?
Aku tidak mau berasumsi apapun tentangmu karena aku takut asumsiku keliru
Aku mencoba untuk diam, meskipun otakku penuh akan pertanyaan tentangmu
Mengapa kau mengabaikanku?
Yang kutanamkan dalam diri bahwa sekarang kau sedang baik-baik saja,
Bahwa mungkin kau sibuk dengan kehidupanmu,
Bahwa aku memang bukan sesiapa bagimu,
Bahwa memang entah...
Jadi aku mencoba untuk tidak bertanya lagi because when you already know that the answer will hurt you, respect your heart and don’t ask!
Dan berdamailah dengan dirimu sendiri...


Baca Selengkapnya

Tuesday, September 11, 2018

Surat untuk Juli


Aku ingin menceritakan tentang jiwa yang kucinta padamu, Juli.
Juli yang hangat, panas, penuh semangat, dan hari-hari yang menyenangkan.
Juli, aku ingin selalu bertemu denganmu.
Juli, engkau begitu mengagumkan,
Aku suka di bulan Juli.
Aku bahagia,
Bulan bersinar, bintang berkedip, angin berhembus mesra
Hatiku membuncah disapa kekasih hati yang datang lagi setelah lama pergi
Malam menjadi saksi bagaimana dia menghubungi aku lagi.
Di kota ini, kota kecil penuh cerita tentang petualangan, persahabatan, dan tentang dia.
Aku gembira,
Cinta lama yang kutunggu, rindu yang berbalas, cinta yang datang kembali
Wahai Mahacinta, terima kasih Kau kirimkan dia yang sebuah jiwa yang hatinya tertaut pada-Mu...
Hatiku berbunga, malam dingin jadi saksi bagaimana dia yang kucinta menyatakannya lagi
Hatiku hangat, hatiku tenang, aku mencinta dan aku dicinta.
Aku terkesan dengan caramu mencintaiku dan memperhatikanku,
Aku terkagum dengan cara berpikirmu,
Aku mau denganmu, hanya kamu.
Tentang ribuan rindu yang menuntut temu, ah sudahlah aku akan selalu sabar menanti waktu yang tepat karena rinduku bukan tentang jarak yang membentang diantara aku dan kamu,
Rinduku selalu hadir karena kau sudah ada di dalamku.
Wahai jiwa yang kucinta, tetaplah seperti ini dan bertahanlah hingga akhir waktu,
Karena aku jatuh hati padamu.

Baca Selengkapnya

Saturday, July 7, 2018

Bertemu Kawan Lama


Pada liburan semester kemarin, aku menghabiskan waktu berlibur ke rumah nenekku di Kediri, Jawa Timur. Perjalanan dari kotaku ke Kediri memakan waktu sekitar 12 jam menggunakan kereta api. Setelah sampai di stasiun kereta api, aku menggunakan taksi untuk menuju rumah nenek yang ditempuh sekitar satu jam dari stasiun Kediri.
Esoknya, aku dan sepupuku menghabiskan waktu berjalan-jalan ke kota Kediri. Ketika sore tiba, kami mengunjungi Simpang Lima Gumul (SLG) yang terletak tepat di tengah lima jalur arah Kediri, Menang, Pare, Pesantren, dan Plosoklaten. Monumen Simpang Lima Gumul ini merupakan bangunan yang menjadi ikon Kediri. Bentuknya menyerupai Arc de Triomphe, yang berada di Paris, Prancis. Ketika aku mengunjungi monumen SLG, suasananya sangat ramai karena saat itu bertepatan dengan akhir pekan sehingga banyak wisatawan yang menghabiskan waktu menikmati suasana kota Kediri di malam hari. Aku melihat banyak orang yang sedang berfoto di monumen SLG serta banyak juga yang sedang menikmati kuliner Kediri di angkringan sekitar monumen.


Aku dan sepupuku mengelilingi monumen yang sangat mirip dengan Arc de Triomphe, bedanya monumen ini melambangkan sejarah berdirinya Kediri. Ketika aku dan sepupuku sedang berswafoto di depan ikon Kediri tersebut, tiba-tiba ada yang memanggil namaku. Awalnya aku mencari sumber suara yang memanggil namaku diantara banyaknya orang yang memadati area monumen, namun aku belum tahu dari mana suara itu berasal. Setelah itu, muncul sosok perempuan yang tidak asing bagiku yang mendekatiku dan memanggil namaku lagi, saat itu juga aku terkejut karena aku tak menyangka bisa bertemu lagi dengan sahabat lamaku yang sudah lima tahun tidak bertemu.  
Senang rasanya dan tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan sahabat lamaku, padahal kami satu kota, namun anehnya kami baru bisa bertemu lagi di tempat yang jauh dari kota kami. Akhirnya, aku dan sahabatku menghabiskan malam itu dengan bertukar cerita dan melepas rindu.

Aku sangat senang bisa menghabiskan waktu liburanku di kampung karena di sini aku bisa melakukan banyak hal yang mungkin tidak bisa aku lakukan di kota, seperti bersepeda mengelilingi kampung, melihat hamparan padi yang sangat luas, menghirup udara yang masih segar, serta masih banyak ladang tebu dan jagung yang tidak bisa ditemui di kota. Di sini juga masih banyak pohon hijau yang menambah indah pemandangan. Aku bertemu dengan wajah-wajah baru, bertemu dengan sahabat lamaku serta aku juga bisa menambah pengalaman dan pengetahuan akan budaya baru yang belum aku ketahui sebelumnya. 


Baca Selengkapnya

Informasi Tentang Candi Surowono



Candi surowono secara administratif terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Candi ini diperkirakan oleh ahli arkeologi merupakan pendharmaan Bhre Wengker dari masa Majapahit, seperti yang terawat dalam kitab Negarakertagama bahwa Bhre Wengker meninggal pada tahun 1388 di dharmakan di Curabhana. Candi ini diperkirakan didirikan pada tahun 1400 M karena Pendharmaan seorang Raja dilakukan setelah 12 tahun raja itu meninggal setelah dilakukan upacara Srada.
Candi ini berdenah bujur sangkar menghadap ke barat, berukuran 7,8 M x 7,8 M dan tinggi 4,72 M. Bagian pondasinya terbuat dari bata sedalam 30 cm dari permukaan tanah. Secara vertikal arsitekturnya terdiri dari bagian kaki dan tubuh terbuat dari batu andesit, sedangkan atapnya sudah runtuh. Bentuk candi ini tambun, berbeda dengan candi-candi periode Majapahit lainnya yang langsing/ramping.
Pada keempat sudut candi terdapat relief raksasa (gana) duduk jongkok, tangan menyunggi ke atas seakan-akan mendukung Prasawyapatha. Dibagian kaki terdapat relief binatang dan cerita tantri. Relief tersebut berupa lembu dan buaya, burung dengan yuyu, singan dengan (petani), ular dengan binatang berkaki empat, gajah dengan badak, orang dengan kera, kijang dengan burung, serigala, naga, kura-kura, itik dan ikan.
Kemudian di masing-masing sisi terdapat tiga panil relief, sebuah panil besar diapit dua panil kecil. Panil-panil besar dan panil kecil yang berada di sudut barat daya berelief cerita Arjunawiwaha. Penggambaran reliefnya Arjuna diikuti dua punakawan menghadap babi hutan yang terkena anak panah. Tangan kanan Arjuna menunjuk anak panah dan tangan kiri berada di pinggangnya, tangan kiri memegang busur. Panil kecil yang berada di sudut timur laut berelief cerita Bubuksah. Penggambrannya ada dua orang, seorang kurus dan seorang gemuk duduk berhadapan. Panil kecil di sudut tenggara berelief cerita Sri Tanjung. Penggambarannya ada seorang wanita naik ikan (Sri Tanjung), seorang laki-laki duduk, pergelangan kaki kiri diletakkan di paha kanan (Sidapaksa duduk di tepi sungai yang dilalui roh Sri Tanjung).
Pada bagian tubuh terdapat hiasan tonjolan-tonjolan bunga teratai (Padma). Berdasarkan relief ceritanya, Candi Surowono berlatar belakang agama Hindu.





Sumber: Papan informasi sejarah Candi Surowono 
sumber foto: dokumentasi teman
Baca Selengkapnya

Friday, July 6, 2018

Tentang Candi Surowono






Candi Surowono merupakan salah satu candi Hindu peninggalan kerajaan Majapahit. Secara administratif, candi ini terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Terdapat sebuah pos penjaga di sebelah kiri sesudah pintu masuk ketika memasuki area candi. Setiap wisatawan yang ingin mengunjungi candi harus melapor kepada penjaga serta membayar biaya masuk yang jumlahnya berapapun secara sukarela. Saat sudah memasuki area pelataran candi, terdapat papan informasi tentang sejarah Candi Surowono.
Di pelataran candi yang luas terdapat banyak batuan candi yang diletakkan di atas balok-balok beton memanjang. Nampaknya, Candi Surowono belum dalam keadaan sepenuhnya utuh dan bebatuan candi tersebut masih menunggu untuk disusun kembali menjadi candi yang utuh dan indah. Bebatuan candi yang disusun memanjang di pelataran candi sama sekali tidak mengurangi keindahan pemandangan candi karena bebatuan tersebut diletakkan secara teratur dan berjajar di tengah pelataran serta dikelilingi taman yang hijau di samping kanan dan kiri.


Candi Surowono berukuran 7,8 M x 7,8 M dan tinggi 4,72 M, menghadap ke barat. Secara vertikal, arsitekturnya terdiri atas bagian kaki dan tubuh yang terbuat dari batu andesit, sedangkan atapnya sudah runtuh. Candi Surowono merupakan candi yang berukuran kecil dan berbentuk tambun, berbeda dengan candi-candi periode Majapahit lainnya. Meskipun begitu, candi ini memiliki relief yang cantik dan di setiap sudut candi terdapat relief patung raksasa yang dinamakan Gana dalam posisi duduk berjongkok dengan kedua tangan yang seolah-olah sedang menopang bagian atas candi. Kemudian di bagian kaki terdapat relief binatang, sedangkan di bagian tubuh candi terdapat hiasan bunga teratai. Relief-relief tersebut terangkai dengan halus dan mengandung pesan-pesan moral.


Meskipun atap Candi Surowono sudah runtuh, hal itu tidak menghilangkan keindahan candi. Dari badan candi terdapat tangga undakan menuju atap candi, yang merupakan tempat untuk menikmati keindahan seluruh area candi. Dari atap candi, kita dapat melihat pemandangan keseluruhan area candi, dari mulai pelataran candi, taman di depan dan kanan, kiri yang asri, serta pepohonan hijau yang berada di sekitar candi. Berwisata ke Candi Surowo memberikan pengalaman dan pengetahuan baru, oleh karena itu patut untuk dicoba jika memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Kediri, Jawa Timur.



Sumber foto: dokumentasi pribadi dan dokumentasi teman
Baca Selengkapnya

Wednesday, June 20, 2018

Surat untuk Juni



Juni, tentang rasa yang datang lalu mati.
Juni, tentang tawa yg lalu menjadi tangis sedih.
Juni, tentang cinta berubah jadi benci.
Juni, tentang rindu yg berubah abu.
Juni, tentang datang kemudian pergi.
pada Juni yang memberikan kebahagian,
pada Juni yang memberi warna mejikuhibiniu
pada Juni yg mengantarkan kesedihan
pada Juni yg mengajarkan cara mengikhlaskan
aku akan belajar ketabahan dari bulan Juni.

kuucapakan terima kasih...
Baca Selengkapnya