Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Saturday, July 31, 2021

Surat untuk Juli

Juli

Itu adalah saat bahagiaku.

Bermandikan cahaya mentari yang menyejukkan jiwa.

Aku tidak takut kepanasan, aku tidak benci kehujanan. Bahkan kedinginan pun aku bisa melawannya. Semua itu tidak ada apa-apanya karena jiwaku terpenuhi oleh emosi bahagia.

 

Itu adalah saat terindahku

Jiwaku terpenuhi oleh jiwa yang bijaksana, yang memperdulikan hingga aku lupa diri, bahwa aku mencintai diriku lebih lagi.

 

Itu adalah momen yang terkenang dan terekam jelas dalam benakku.

Bau wangi, indahnya mentari, dinginnya suhu di pagi hari.

Tempat nun jauh yang selalu ingin aku datangi.

Bertemu dengan jiwa-jiwa luar biasa, yang takkan terlupa.

Di tempat itu. Sebuah memorabilia.

Itu adalah dulu, itu adalah masa lalu.

Hanya singgah, tidak sungguh.

Dan benda itu telah sirna. Perlahan memudar, lalu lenyap. Namun, aku tetap abadi.

Baca Selengkapnya

Wednesday, June 30, 2021

Surat untuk Juni

Juni, aku atau kamu atau bahkan kita pasti selalu teringat tentang "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi

Agaknya memang benar adanya bahwa beliau lah sang cenayang

Bahwa Juni selalu disambut dengan rintik yang syahdu

Lalu di akhiri dengan gerimis yang sendu

Aku juga mengiyakan bahwa "tidak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni", bagaimana tidak? Segala rintik rindu itu dirahasiakannya begitu saja kepada pohon berbunga itu.

Agaknya kita pasti pernah berada di posisi itu, ketika rindu begitu menggebu tetapi tak bisa bertemu.

Bukan hanya bertemu, bahkan untuk menyatakan saja sulit.

Maka sekali lagi benar bahwa memang tidak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, karena segala yang tak terucap itu dibiarkan saja hingga terserap oleh akar pohon berbunga itu.

Atau apakah Juni itu adalah aku? Atau apakah aku adalah hujan bulan Juni?

Entahlah, analogi itu begitu indahnya sampai aku terlupa.


Baca Selengkapnya

Sunday, May 30, 2021

Surat untuk Mei

Bagai daffodil yang gelisah,

Sedetik bahagia, detik berikutnya bertanya-tanya.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Memulai menyapa atau biarkan saja?

Rasa penasaran itu memenjaraku pada detik-detik yang penuh gelisah.

Ingin melangkah, tapi aku harus penuh perhitungan.

Aku sungguh penasaran, apakah kau juga sama?

Kepalaku puisi yang tak pernah mampu membaca kepalamu!

Peta tak pernah mengenal alamatmu!

“Kau yang cuma singgah atau aku yang terlalu berharap pada titik temu?”

Kamu hidup dalam otakku, visualnya saja, tak ada realitanya.

Namun, kamu benar-benar ada!

Jadi bagaimana, apakah aku yang harus memulainya?

Atau aku harus selalu sabar menunggu?

Tapi sampai kapan ya? Ku pun tak tau!

 

Baca Selengkapnya

Sunday, April 25, 2021

Surat untuk April

Sebuah buku,

Dianalogikan seperti kamu,

Yang selalu terpatri dibenakku,

Yang dinamakan kenangan masa lalu,

Yang tetap utuh.

 

Kamu bagai prolog, yang mengawali cerita di halaman pertama,

Yang memberikan rasa penasaran tak terhingga,

Yang memperkenalkan pada tokoh, latar, dan konflik cerita,

Yang membawa ke halaman, dua, tujuh, sepuluh, hingga berpuluh-puluh selanjutnya,

 

Pada bab satu, rasa itu tumbuh.

Berkat prolog yang sungguh memperkenalkan tentang sesuatu yang baru,

Pada beberapa tahun yang lalu,

Masih utuh tersimpan di benakku.

 

Pada bab dua, tiga, tujuh, dan seterusnya.

Lembaran-lembaran itu merangkai sebuah rentang kisah,

Pada langit senja, pada awan biru, dan pada hari di belakang nun jauh,

Aku merindu, pada kamu.

 

Lembaran-lembaran yang terpaksa harus kuhentikan,

Bukan karena bosan, tapi hanya karena tak ada kejelasan.

Aku masih penasaran.

Rapuh, usang, berserakan.

 

Aku di barat, kamu di timur.

Aku di selatan, kamu di utara.

Aku bumi, kamu matahari.

Pada titik yang mana kita akan berjumpa?

Satu yang pasti, kita masih memandang langit yang sama.

 

Lembaran buku yang belum sampai pada epilog,

Yang entah pada bab berapa kita sekarang berada,

Dilanjutkan atau dihentikan, seharusnya apa?

Yang aku tahu, waktu akan terus merangkak maju.

Pada suatu ketika, kita akan bertemu jua.

 

Baca Selengkapnya

Friday, March 12, 2021

Surat untuk Maret

 


Kepada jiwa yang singgah, tapi tak sungguh.
Menunggu hingga membeku,
Menanti di bawah harapan yang tak pasti.
Pada ujung yang tak pernah ada titik temu.
Pun tak ada kata jemu.
Tentang balada puan yang tak bertuan.
Mengawang, abu-abu, kelabu.
Satu hal yang kumengerti dengan pasti, bahwa yang tidak pasti adalah ketidakpastian.

Bagaikan daun kering yang gugur. Jatuh tertahan, perlahan hingga ke pelataran. Lalu terhempas berantakan. Remuk tercabik sepi dan menunggui mati. Sesakit inikah ditinggal pergi.


Kau bukan tempat untuk memberhentikan langkahku.
Jalanku masih amat panjang, mimpiku masih besar, asaku masih membumbung tinggi.
Aku melangkah pergi, kau pun tak kembali.
Menanti di ruang hampa, menatapi sebuah janji yang terbentang luas di langit biru.
Menyadari sebuah arti.
Jalanku masih panjang, aku masih harus berjuang.

Baca Selengkapnya

Friday, February 5, 2021

Surat untuk Februari

Halo Feb, Februari maksudku.

Sudah Februari (lagi), bulan kedua dari dua belas bulan yang ada; bulan kasih sayang katanya.

Entah bagaimana asal-usulnya, kau menjadi simbol dari kasih sayang. Namun, aku sadari bahwa orang-orang yang tersayang terlahir di bulan ini. Jadi, aku setuju saja bahwa kau dilimpahi kasih sayang.

Semua berawal dari sini, surat yang tertulis di Februari.

Bintang dan bulan yang terbentang di kejauhan, berpendar di langit malam, tidak akan pernah diperbandingkan meskipun terlihat berdampingan.

Tiap entitas memiliki timeline hidupnya masing-masing, pun juga kesuksesan, kesempatan bersinar seluas kerlap-kerlip bintang di langit.

Bahwa individu memiliki peluangnya masing-masing. Gapai asa, kejar mimpi. Teruslah berlari.  

Kita adalah bintang di kehidupan kita, jadilah yang paling bersinar.

Jadi apa saja yang kau inginkan, jangan dibatasi, kau berhak atas hidupmu sendiri.

Berusaha terus lakukan yang terbaik, diiringi doa tanpa henti karena hasil tak akan mengkhianati.

Doa ini akan menembus ke keabadian, melampaui ruang dan waktu, semesta mendengarku.

Just enjoying your little step and moments. Everyone has their own timeline.

Setiap entitas diciptakan-Nya dengan potensi yang berbeda, setiap individu memiliki porsi bahagianya masing-masing. Maka bersyukurlah…

Baca Selengkapnya

Monday, January 4, 2021

Surat untuk Januari

Untuk bulan pertama dari dua belas bulan yang ada, hai selamat datang ya!

Jadilah awal yang baik sebagai lembaran baru dari tahun yang semakin sulit,

Jadilah pembuka dari segala kebaikan yang akan terjadi di halaman-halaman berikutnya,

Aku percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Hal-hal baik akan terjadi juga setelah penantian panjang penuh perjuangan.

Setiap entitas mengharapkanmu menjadi lembaran baru yang berbeda dari yang dulu.

Semuanya yang disemogakan akan berlabuh pada hal panjang yang akan terjadi kelak di hari depan.

Apapun itu, ya apapun yang menerpamu juga menerpaku, semuanya, segalanya, kita hanya minta satu; yaitu kuatkanlah bahumu, kuatkan bahuku guna menghadapi hari baru di masa yang akan datang nun jauh.

Aku tahu bahwa langkahku dan langkahmu tak beriringan selalu, tetapi doaku selalu menyertaimu.

meskipun semakin berat, tapi biarlah karena semuanya akan segera berlalu.

Bagaikan sebuah buku yang terdiri dari 365 halaman yang penuh cerita, pasti akan ada senyum, tangis, luka, dan tawa.  Namun, kuyakin sebuah kisah klise akan berakhir dengan bahagia begitupun kehidupan kita semua.

Kuatkan hati, kuatkan diri, semangatlah menjalani ini.

Bunga itu akan mekar secara perlahan, impian itu akan mencapai wujudnya.

Maka tenanglah, maka sabarlah, sebentar lagi kita akan menang, tunggulah, kuyakin kita akan sampai pada masa itu di hari depan nun jauh.

Selalu lakukan yang terbaik, maka akan menghasilkan yang lebih baik.

Baca Selengkapnya

Wednesday, December 9, 2020

Surat untuk Desember

Untuk bulan keduabelas setelah hari-hari berat yang menyesakkan, datang lagi dengan setumpuk harapan baru.

Untuk tahun yang penuh dengan air mata, ketakutan, kesendirian, dan segala hal yang tidak menyenangkan.

Hai, kumohon jadilah hal terakhir yang baik di tahun yang kebanyakan menilai tidak baik. Masih ada secercah harapan bukan? Ya, aku percaya karena setelah gelap, maka terbitlah terang. Setelah hujan deras, terbitlah reda, pelangi yang juga kadang membawa warna-warni yang baru.

Kau adalah penghujung, penutup, dan akhir dari segala yang telah terjadi di 366 hari, maka jadilah 31 hari-hari baik yang terwujud, jadilah keajaiban yang ditunggu-tunggu untuk datang, jadilah segala yang telah disemogakan.

Hal-hal baik dan kebahagiaan akan datang setelah perjuangan dan air mata, kuncup itu akan mekar juga menjadi bunga senyuman yang indah. Usaha keras tidak akan pernah menghianati hasil.

Meski masih ada ketakutan dan keraguan, tapi percayalah segalanya akan dipermudah.

Jangan takut pada luka dan sakit.

kuatkan hati, bulatkan tekad! apapun yang terjadi, jangan gentar!

Baca Selengkapnya

Saturday, November 7, 2020

Surat untuk November

Rinai hujan di November datang dan pergi setiap hari,

Langit hampir selalu kelabu, seketika menjadi sendu.

Segala hal dan bau hujan di hari yang panjang mengantarkan pada memori nan jauh di masa lalu,

Rasanya baru kemarin teriknya mentari menghampiri hari-hari yang dijalani,

Tetapi masa lalu menjauh, kau pun begitu.

Datang dan pergi seperti musim di dua belas bulan yang silih berganti.

Seperti suasana hati, pun berubah secepat kilat.

Kadang bahagia, ceria, menangis, bersemangat lagi, jatuh, bangkit lagi, terus berputar lagi.

Begitu juga ketakutan, pun kerap kali menghantui, pada hal-hal yang juga belum pasti, pada hari depan, bahkan saat ini.

Lalu terlintas dalam pikiran, memori itu sudah jauh sekali,

Ah aku rindu, pada hari dulu, pada masa lalu, di situ.

Lalu berkelibat lagi, hal-hal absurd yang adalah gambaran dari segala suasana hati.

Akankan kita bisa bertemu lagi, pada hari depan di tempat yang diinginkan.

Pada tekanan yang tak tertahankan, ingin kulampiaskan.

Pada suara-suara yang lagi memantul ke arah diri sendiri.

Oh wahai hati, wahai diri, tenanglah sekali lagi.

Segalanya berawal dari pikiran, kendalikanlah, pada hal-hal yang positif, pada hal-hal yang menyenangkan.

Tenanglah wahai diri, tenangkanlah hati wahai kawan, karena kupercaya kita akan menang.

Di hari jauh di masa depan, kita akan tersenyum bangga atas segala hal yang kita lalui, atas segala hal yang kita perjuangkan.

Kupercaya, maka bersemangatlah! Kita akan menang!

Baca Selengkapnya

Saturday, October 10, 2020

Surat untuk Oktober

Tentang ketidakpastian yang selalu mengganggu pikiran,

Pada kesibukan yang selalu mendatangi, pada kegelisahan yang terus menghantui, pada ketakutan yang sering menghinggapi,

Wahai diri, aku ingin kau mengerti.

It’s okay to not be okay, tidak apa-apa jika sekarang sedang merasa tidak baik-baik saja.

Semua rasa itu wajar; tertekan, stres, kecewa, merasa bersalah dan segala hal yang tidak diinginkan.

Menangislah jika ingin menangis, tumpahkan saja segala energi negatif itu.

Aku tahu hatimu terluka, pikiranmu penuh, bebanmu berat.

Namun, aku juga tahu bahumu kuat, hidupmu hebat.

Satu hal yang harus ditekankan, yaitu kamu tidak boleh menyerah karena aku percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Setiap orang pasti memiliki masalahnya masing-masing. Kamu pasti bisa tenang dalam keadaan sekeruh apapun.

Jangan cemas dan panik, coba ambil nafas sejenak, coba ingat dan lihat kembali ke belakang bahwa kamu telah melewati banyak hal yang lebih berat.

Lihat dirimu dan percayalah!

Hey kamu kuat, ayo bangkitlah!

 

Baca Selengkapnya

Thursday, September 3, 2020

Surat untuk September

Ketika aku merindumu, kamu merindunya.

Ketika aku ingin bertemu denganmu, kamu ingin dengannya.

Ketika aku ingin memiliki waktu bersamamu, kamu ingin bersamanya.

Setiap kali kamu datang padaku, selalu ada rasa senang sekaligus takut. Ya, aku senang karena kamu datang lagi, namun aku juga takut kamu pergi lagi. 

Bukankah itu siklus kehidupan? Atau itu siklus rasa yang tak abadi?

Entahlah, yang aku tahu pasti bahwa aku ingin kamu menetap.

Aku tahu, terselip keraguan pada pertanyaan yang kau utarakan. Apakah kau sebegitu ingin tahunya alasan di balik rasa ini? Bukankah tidak semua hal selalu mempunyai alasan? Ya, tentu semua ada prosesnya.

Setiap teringat hal itu selalu tersemat rasa takut, pada hal-hal yang belum pasti, pada rasa yang tak abadi, pada janji yang mungkin tak bisa ditepati, pada kepastian yang tidak pasti.

Pada hari esok, lusa, dan hari jauh di masa depan, akankah aku selalu merasa aman?

Tentang ketidaksempurnaan, bukankah kita semua tidak sempurna? Mengapa tak saling melengkapi?

Jangan mencari yang sempurna baru kamu bahagia, tetapi terimalah ketidaksempurnaan itu baru kamu bisa bahagia.

Tentang kebahagiaan, mengapa selalu menanyakan hal ini? Bagaimana kamu mendefinisikannya?

Aku, sederhana saja, ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu lainnya terbuka. Namun, seringkali kita terlalu lama melihat pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak bisa melihat pintu yang terbuka bagi kita.

Maka lihatlah lebih dekat, sadarilah, mengertilah, dan bersyukurlah.

Baca Selengkapnya

Saturday, August 15, 2020

Surat untuk Agustus

Pertanyaanmu kala itu masih mengganggu pikiranku. Bagaimana mungkin aku mencari laki-laki lain! Bagaimana mungkin! Mengapa kau harus bertanya demikian? Apakah kau tahu bagaimana aku selama ini menjaga hati untuk siapa? Untuk siapa lagi kalau bukan untukmu!

Lantas mengapa kau merasa bingung? aku bingung mengapa kau bingung dan aku bingung mengapa aku harus bingung. 

Perasaan ini kurawat dengan kesabaran dan harapan-harapan baik, pun ku selalu berpikiran positif tentangmu. Apakah kau belum juga melihat tulusku? Mengapa kau meragukanku? 

Ya, memang ini pertanyaan retoris. Memantul ke arah diriku lagi karena kau belum juga akan menjelaskannya atau bahkan sama sekali tak berniat untuk menjelaskannya. Pada akhirnya aku yang harus merenung dan merefleksikannya.

Kenyataan bahwa tidak (lagi) dicintai oleh orang yang dicinta membuat terbentuknya sebuah rasa sadar diri yang menggiring pada keadaan yang tidak baik-baik saja. Mungkin akan berpura-pura menjadi terlihat baik-baik saja agar dilabeli sebagai manusia kuat. 

Aku menyadari bahwa ada alasan di balik segala sikapmu, aku mengerti bahwa segala sesuatu terjadi pasti ada penyebabnya. Komunikasi memang penting agar tidak terjadi sebuah kesalapahaman, namun aku mengerti bahwa tidak segala hal bisa diceritakan dan ada hal yang memang belum bisa dijelaskan saat ini, maka yang hanya bisa dilakukan adalah bersabar sampai kau bisa berbagi cerita.

Dalam kebingungan yang melingkupi pikiran, dalam renungan yang panjang, dalam kesendirian. Aku teringat saat kau bercerita tentang kisah di masa lalumu. Kini aku paham bahwa memang masih ada memorimu tentang seseorang dari masa lalu yang pernah menghiasi hari-harimu. Aku mengerti hatimu pasti sakit sekali. Kini, biar kuberi sedikit kata-kata; tahukah kamu bahwa tahap mencintai yang paling tinggi adalah saat kau bisa mengikhlaskan kepergian seseorang entah itu berpisah karena maut atau dia pergi meninggalkanmu demi seseorang pilihannya yang membuatnya lebih bahagia. 

Selamat menikmati kesakitan yang tak bisa kau tahan. Selamat menikmati kehampaan yang tak berujung. Selamat menikmati tangisan yang tak lagi bersuara.

Namun, satu hal yang harus kau tahu bahwa kesedihanmu jangan berlarut-larut. Kebahagianmu ada pada dirimu sendiri, bukan pada entitas lain. Tersenyumlah dan bangkitlah. Bersyukurlah karena kau layak dicinta. 

Dalam ruang kedap rasa, semoga kamu mengerti bahwa aku begitu berarti. 


Baca Selengkapnya

Thursday, July 2, 2020

Surat untuk Juli


Juli pada semua keheningan yang dipecahkan oleh temu pada hal-hal baru. Ada harapan baik pada bulan baik yang berisi kenangan manis pada sesuatu yang jauh; nostalgia. Semoga tetap sama atau tumbuh semakin baik. Hal-hal tersebut mengarah pada situasi saat ini, yang diharapkan masih juga baik.
Tidak ada kata selesai, pun kata usai. Semuanya masih berlanjut seperti dulu, namun ada hal yang dirasa baru. Segala keheningan, kesepian, dan kesendirian harus diganti dengan semangat menyambut hal yang baru yang tak benar-benar baru. Entah mengapa ketiga rasa itu terasa nyaman hingga enggan keluar. Namun, harus ada yang menanggung beban lebih dan kehidupan harus terus berlanjut, bagaimanapun juga waktu terus merangkak maju.
Ada kata yang belum tersampaikan, ada pernyataan yang belum dijawab. Segala sesuatu itu memberikan beban pikiran baru, segala tanya yang juga belum sanggup diajukan, segala rindu yang belum berujung temu. Di sepanjang waktu, beban pikiran itu mengarah pada ketakutan kepada hal yang dirasa belum pasti; masa yang akan datang. Masa yang jauh itu, yang hanya sejengkal mata, entah akan bagaimana mengarah ke sana, selain dengan semangat dalam diri dan optimisme tinggi. Pada akhirnya, masih harus menunggu dan tetap bersabar. Dan wahai diri, kau harus lebih kuat lagi.

Baca Selengkapnya

Saturday, June 6, 2020

Halo Juni Lagi


Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog ini, maafkan aku bukan karena aku mengabaikanmu, bukan karena aku melupakanmu, bukan karena sudah tidak ada lagi cerita melalui surat yang ku tulis setiap bulannya. Aku hanya sok sibuk sehingga aku tidak bisa meluangkan waktu untuk sekadar menulis sepatah kata atau menuangkan cerita di blog ini. Aku rindu menulis. Bagiku, menulis adalah media paling mudah dalam menyembuhkan segala luka.

Aku rindu padanya, tapi apakah rindu ini dibalasnya? Aku hanya menduga bahwa rinduku tak dibalasnya, bahwa barangkali ia merindukan yang lain. Ini hanya dugaan, hipotesa, mengingat bahwa aku akan selalu mencoba berpikir positif tentangnya.
Apakah kau pernah merasakan diabaikan begitu saja? Aku sepertinya sering. Misalnya ketika di kolom obrolan pesan hanya diread saja. Lebih menyakitkan pesan diread saja atau tidak diread sama sekali atau bahkan didiamkan tanpa kejelasan. Ah iya mungkin baginya itu sesuatu yang tidak penting, sama sekali tidak penting.
Terkadang lebih menyakitkan ditinggal begitu saja tanpa kejelasan. Hey, apakah dia tahu bahwa aku memikirkannya, bahwa aku mengkhawatirkannya. Bayangkan saja bagaimana rasanya.

Apakah kau juga pernah merasakan mencinta seseorang yang sama untuk waktu yang lama? Aku sudah merasakannya sampai saat ini sejak pertemuan pertama di tiga tahun lalu.
Tapi, apakah dia juga sama? Entahlah.
Bahwa sahabatku selalu menanyakan hubunganku dengannya. Bagaimana ku menjawabnya? Karena pada dasarnya aku juga tidak tahu hubungan kita apa.
Nampaknya aku memang bukan siapa-siapa, I mean, mungkin memang dia tidak menganggap eksistensiku. I just a speck of dust within the galaxy.


Baca Selengkapnya

Friday, September 27, 2019

Surat untuk September


Semuanya terlihat masih sama
tak ada yang spesial,
masih sama seperti tahun-tahun lalu.
namun tak ada ucapan darimu.
mengapa begitu?
tidak ingatkah? atau memang sengaja?
barangkali yang benar adalah pilihan yang kedua, entah apa alasannya.
Meskipun begitu aku tetap mensyukuri segala hal yang telah diberi dan yang ada pada diri.
Aku akan terus berusaha untuk mengenali diri sendiri, mencoba berdamai dengan segala hal yang terjadi.
Dan yang pasti aku harus terus belajar, belajar untuk selalu kuat dan belajar untuk belajar.
selalu mencintai apa yang aku kerjakan dengan sepenuh hati.
"Bahumu harus kuat, hidupmu harus hebat."


Baca Selengkapnya

Sunday, September 1, 2019

Surat untuk Agustus

Awalnya aku bahagia sekali karena kau datang lagi,
Namun di lain sisi aku bertanya-tanya sendiri
Apakah kau akan menetap atau pergi lagi?
Aku mencoba menangkis pemikiran ini,
Meyakini diri dan menikmati waktu yang akan menjadi memori.
Yang aku tahu, aku sangat mengenal situasi ini.
Ya, ini sebuah repetisi,
Tentang engkau yang datang dan pergi sesuka hati,
Aku sudah paham sekali tentang situasi ini
Karena ini sudah beberapa kali.
Wahai diri apakah masih belum mengerti tentang isi hati?
Aku bersedia menemanimu sampai ujung hari nanti.
Apa kau masih belum pahami tentang kalimat ini?
Ah, iya ini memang repetisi!
Tapi perlu kau tahu saat kau tanya,”mau apa lagi?”
Sejujurnya aku ingin menjawab,”aku mau kau terus ada di sini, menemaniku melewati masa-masa sulit dalam hidup ini dan jangan pernah pergi lagi.”
Namun apa daya, aku hanya bisa diam karena bagiku aku sudah bahagia saat itu melihatmu ada di sisi.
Aku berharapan baik agar kau pada akhirnya menetap tanpa pernah pergi lagi.
Baca Selengkapnya

Wednesday, July 24, 2019

Surat untuk Juli

Ini masih tentang kamu (lagi)
Mengapa kau mengabaikanku? (lagi) aku bingung sendiri harus berbuat apa (lagi).
Kau tahu berada di posisiku adalah sebuah keadaan yang tidak mengenakkan! Mengapa demikian? Ya, jelas. Apakah kamu masih belum bisa melihat tulusku? Ataukah kamu masih dibutakan oleh rasa yang dalam pada dia (yang entah siapa)? Hey aku sangat peka, aku tahu kau tidak sedang baik-baik saja.
Setiap kali kau datang padaku, lalu pergi lagi, kemudian datang lagi, dan tiba-tiba hilang tanpa kabar!
Hey, sebenarnya kau menganggapku sebagai apa?
Pelampiasan? 
Aku selalu berpikir positif tentangmu, ya, aku selalu membohongi diriku bahwa kamu baik-baik saja, tidak menyukai wanita selain aku.
Tapi sayangnya semua itu terlihat jelas dari sikapmu yang mengabaikanku, oh ya ini sangat menyakitkan kau tahu? Diabaikan dan dianggap tidak ada oleh orang yang kita sayangi adalah hal yang buruk! Kau tahu kan rasanya?!
Aku tidak bisa menghilangkan rasa ini, aku pun tidak bisa memaksakan rasamu padaku, yang ada hanyalah perlahan-lahan sikapmu itu membunuhku!
Kau tahu, setiap rindu yang ku utarakan namun kau abaikan, itu lagi-lagi menyakitkan!
Bagaimana bisa, rasa ini masih tetap.
Acap kali aku selalu bertanya pada diri sendiri tentunya, apakah kamu mau menemaniku melewati masa-masa tersulit dalam hidupku?
Apakah kamu mau berproses denganku?
Apakah kamu mau menerima segalaku? Apakah kamu?
Itu bukan tentang keraguan, apakah kau melihat ada ragu di dalamku? Tidak.
Hey aku memilihmu, berarti aku percaya padamu!
Kau bilang kau serius denganku, ya aku memang terlalu naif.
Lantas mengapa kau membalas rasaku dengan cara seperti ini?

Atau barangkali ini yang disebut cinta?
Baca Selengkapnya

Surat untuk Juni

“Tidak peduli sejauh apa kau melangkah, pada akhirnya rumah adalah tempatmu kembali.”
Ya benar sekali, dan aku benar-benar meresapi kutipan tersebut setelah sekian lama aku pulang pergi dari rantau ke rumah.
Selama ini, bagiku pulang hanyalah rutinitas saat liburan semester telah tiba dan aku akan menyambutnya dengan suka cita.
Tapi semuanya berubah, pada liburan ini berbeda dari liburan sebelum-sebelumnya.
Aku dilanda sakit yang cukup parah sampai harus dibawa ke rumah sakit. Dalam keadaan sakit itu aku harus pulang ke rumah dan membuat keluargaku cemas. Aku selama ini tak banyak bercerita tentang keadaanku, ya karena selama ini aku baik-baik saja.
Ibu selalu menasehati agar aku selalu sabar, karena bagaimana pun sakit adalah ujian. Pinjami aku hatimu agar aku bisa sesabar engkau, bu.
Dari ibu aku melihat ketulusan dan kesabaran yang terpancar.
Dengan sabar, beliau merawatku yang sedang sakit.
Ketika aku menangis, meski bukan karena sedih, beliau selalu menguatkanku tetapi sesungguhnya aku tahu bahwa beliau tidak sanggup menahan tangisnya.
Bagiku, beliau seperti malaikat. Oh Tuhan, kelak tolong balas beliau dengan surga-Mu.
Tetapi semuanya tidak berlangsung lama, hanya tiga minggu saja, aku harus kembali ke rantau lagi.
Ya, aku mengerti, tiga minggu adalah waktu yang singkat. Belum cukup mengobati luka-luka rindu berbulan-bulan tak bertemu. Belum cukup juga mengobati luka fisik ini.
Tapi aku harus kembali merakit mimpi, aku tidak boleh lemah, tidak boleh menyerah, masa depan yang cerah harus kuraih.

Terima kasih, keluarga adalah segalanya. 
Baca Selengkapnya

Tuesday, June 11, 2019

Surat untuk Mei

Aku merasa benar-benar sendiri, entah karena aku yang tidak ingin menyusahkan orang lain atau memang karena mereka yang tidak peduli.
Aku merasa benar-benar sendiri, ketika aku jatuh sakit hanya bisa terbaring di ruangan persegi, tempat yang jauh dari rumah.
Sore itu, entah karena apa penyebabnya, mataku berkunang-kunang, jalanku sempoyongan, aku merasa tak berdaya.
Sambil merapal kalimat yang luar biasa, aku bertahan, berusaha tak memejamkan mata, hingga yang tersisa hanya keringat dingin yang mengalir di sekujur tubuh.
Apa yang terjadi dengan diriku? Yang bisa aku lakukan adalah terbaring lemah di atas kasur.
Banyak rencana yang sudah aku susun jauh-jauh hari yang pada akhirnya terbengkalai karena sakitku.
Banyak kegiatan yang ingin aku lakukan, namun pada akhirnya hanya rencana yang tak terwujud.
Yang aku inginkan adalah sakit di rumah saja, aku mohon jangan sakit di tempat ini karena aku hanya sendiri, benar-benar merasa sendiri.
Ternyata begini rasanya, harus pura-pura kuat, melakukan segalanya sendiri, melupakan segala rasa sakit yang ada.
Namun tidak bisa, rasa sakit ini telah menjalar di hampir seluruh tubuh.

Aku ingin pulang saja, sakit sekali rasanya.
Baca Selengkapnya

Saturday, April 27, 2019

Surat untuk April

Aku bertanya pada diri sendiri, sebenarnya aku yang terlalu memaklumi atau kau yang memang tidak peduli?
“Jangan menangis lagi ya!” ujarmu padaku sebelum “dag” saat pertemuan terakhir kita lima bulan yang lalu. Hmm sudah lama yaaa.
Satu kali dua puluh empat jam aku menunggu dering handphoneku barangkali ada pesan darimu, nihil.
Dua puluh empat jam berikutnya dan berikutnya tetap sama, tak ada notifikasi pesan darimu, ah barangkali belum, sangkaku.
Hari demi hari berganti, aku takut (lagi) kehilanganmu untuk kesekian kali,
hingga aku menyadari bulan terus berganti dan belum juga ada tanda dari kedatanganmu, baik nyata maupun maya.
Seringkali aku bertanya, pada diri sendiri tentunya, mengapa kau mendiamkanku? Mengapa mengabaikanku? Apa kabarmu? Masih adakah rasa yang kusebut cinta bersemayan dalam hatimu?
Wahai jiwa yang kusebut cinta, bagaimana bisa aku tidak menangis jika sumber dari tangisku adalah kau!
Bagaimana bisa kau melarangku menangis jika sebab dari tangisku adalah kau!
Lantas harus berapa lama lagi aku menunggu?
Menunggumu seperti menunggu Godot, kau adalah keberadaan dari suatu ketiadaan.
Lelahku dipermainkan rasa,

Tapi aku masih punya asa!
Baca Selengkapnya