Tuesday, June 11, 2019

Surat untuk Mei

Aku merasa benar-benar sendiri, entah karena aku yang tidak ingin menyusahkan orang lain atau memang karena mereka yang tidak peduli.
Aku merasa benar-benar sendiri, ketika aku jatuh sakit hanya bisa terbaring di ruangan persegi, tempat yang jauh dari rumah.
Sore itu, entah karena apa penyebabnya, mataku berkunang-kunang, jalanku sempoyongan, aku merasa tak berdaya.
Sambil merapal kalimat yang luar biasa, aku bertahan, berusaha tak memejamkan mata, hingga yang tersisa hanya keringat dingin yang mengalir di sekujur tubuh.
Apa yang terjadi dengan diriku? Yang bisa aku lakukan adalah terbaring lemah di atas kasur.
Banyak rencana yang sudah aku susun jauh-jauh hari yang pada akhirnya terbengkalai karena sakitku.
Banyak kegiatan yang ingin aku lakukan, namun pada akhirnya hanya rencana yang tak terwujud.
Yang aku inginkan adalah sakit di rumah saja, aku mohon jangan sakit di tempat ini karena aku hanya sendiri, benar-benar merasa sendiri.
Ternyata begini rasanya, harus pura-pura kuat, melakukan segalanya sendiri, melupakan segala rasa sakit yang ada.
Namun tidak bisa, rasa sakit ini telah menjalar di hampir seluruh tubuh.

Aku ingin pulang saja, sakit sekali rasanya.
Baca Selengkapnya

Sunday, April 28, 2019

Heavenly Blush Greek Yogurt: Yogurt Tinggi Protein Penahan Lapar Saat Jam Nanggung

Apakah kamu sering merasa lapar saat jam nanggung, seperti jam 10 pagi? Padahal saat pagi sudah sarapan. Rasanya pengen cepat makan siang, tapi nanggung banget masih jam 10. Kebanyakan orang akan memilih untuk memakan snack sebagai pengganjal rasa lapar saat jam nanggung dengan alasan snack lebih praktis, cukup mengenyangkan, dan mudah ditemukan. Padahal snack yang dimakan belum tentu sehat dan yang pasti banyak kandungan zat yang kurang baik serta akan berdampak buruk bagi kesehatan jika mengonsumsinya terlalu sering. Dampak buruk akibat kandungan bahan pengawet, pemanis buatan, pewarna makanan dalam snack adalah dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti diabetes dan obesitas.
Apa sih yang menyebabkan kita sering banget kelaparan di saat jam nangung? Salah satu penyebabnya adalah kita kekurangan protein. Ya, protein adalah zat yang bisa menghambat rasa lapar. Mengutip dari website Heavenly Blush https://www.heavenlyblush.com/tips/konsumsi-protein-bikin-kenyang-lebih-lama/ menurut studi di jurnal Cell mengungkap penyebabnya adalah karena protein efektif menghalangi saraf mu-opioid receptor (MOR) di perut yang mengirim sinyal lapar dan kenyang ke otak. Lewat saraf MOR tubuh berkomunikasi dengan otak memberitahu kapan saatnya makan dan kapan harus berhenti. Ketika saraf MOR di perut terstimulasi maka ia akan mengirim sinyal yang mendorong seseorang untuk terus makan sampai saraf tertutup atau terhalangi, dan saat itulah seseorang akan merasa kenyang.
Nah setelah melihat penjelasan di atas, maka manfaat protein sangat penting dalam memberikan rasa kenyang lebih lama dan menahan lapar saat jam nanggung, oleh karena itu penting bagi kita mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi protein. Pilihanku ketika lapar di saat jam nanggung adalah makan greek yogurt. Mengapa greek yogurt? Apa bedanya dengan yogurt biasa? Ya, sekarang ini popularitas greek yogurt di Indonesia sedang meningkat, sebenarnya kandungan gizi dalam greek yogurt pada umumnya sama seperti yogurt biasa, yang beda adalah dalam proses pembuatannya. Greek yogurt melewati proses fermentasi khusus yang menyebabkan tekstur pada greek yoghurt menjadi lebih padat dan creamy. Selain itu, greek yogurt mengandung tinggi protein dan rendah lemak.
Greek yogurt yang aku suka adalah Heavenly Blush Greek Yogurt karena ini merupakan greek yogurt tinggi protein, kaya nutrisi, rasanya enak, teksturnya padat dan creamy. Yang lebih penting adalah produk ini dibuat tanpa pemanis dan perasa buatan, serta bahan pengawet. Melihat kandungan yang ada di dalamnya membuat Heavenly Blush Greek Yogurt ini pas banget dikonsumsi saat lapar di jam nanggung. Apalagi produk Heavenly Blush Greek Yogurt terdiri dari dua jenis yang dapat kamu pilih yaitu, yang pertama Heavenly Blush Greek Yogurt cup yang disajikan dengan potongan buah yang kadar manisnya bisa ditentukan sesuai selera, seperti strawberry, peach, granola, madu, pir, apel. Yang kedua, Heavenly Blush Greek Yogurt Classic, merupakan jenis yogurt ready to drink. Kemasannya yang berbentuk prisma merupakan yang pertama di Asia Tenggara. Membuat Heavenly Blush lebih mudah dibawa ke mana-mana.

Jadi saat lapar di jam nanggung, daripada konsumsi snack yang kurang sehat lebih baik konsumsi greek yogurt karena banyak manfaat yang didapat dari greek yogurt bagi tubuh kita. Manfaat greek yogurt yang pertama adalah baik untuk sistem pencernaan karena kandungan probiotik di dalamnya yang mampu meningkatkan sistem pencernaan kita. Manfaat selanjutnya adalah kandungan tinggi protein dalam greek yogurt dua kali lipat dibanding yogurt biasa sehingga mampu menjaga sistem kekebalan tubuh, sistem saraf, dan mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Greek yogurt juga mengandung kalsium tinggi yang baik untuk mempertahankan fungsi otot dan tulang. Manfaat lainnya adalah greek yogurt rendah karbohidrat karena greek yogurt mengandung gula yang lebih rendah dibanding yogurt biasa. Dan juga tentunya greek yogurt kaya akan vitamin B-12 yang berperan dalam pembentukan sel darah merah, menunjang fungsi otak dan kesehatan jantung.

Aku suka kedua jenis Heavenly Blush Greek Yogurt, tapi aku lebih sering mengonsumsi Heavenly Blush Greek Yogurt Classic karena produk ini plain dan merupakan jenis yogurt ready to drink sehingga lebih mudah dibawa kemana-mana, apalagi kalau di kelas tiba-tiba lapar di jam nanggung, maka produk ini adalah solusinya! Tinggal di minum, beres deh... bikin kenyang lebih lama, bisa menahan lapar sampai jam makan siang. Jangan salah pilih snack ya, pilih saja Heavenly Blush Greek Yogurt yang merupakan greek yogurt tinggi protein dan rendah lemak, siap minum kapanpun dan dimanapun. Heavenly Blush Greek Yogurt...Greek yogurt tinggi protein, kenyangnya bernutrisi! 

Baca Selengkapnya

Saturday, April 27, 2019

Surat untuk April

Aku bertanya pada diri sendiri, sebenarnya aku yang terlalu memaklumi atau kau yang memang tidak peduli?
“Jangan menangis lagi ya!” ujarmu padaku sebelum “dag” saat pertemuan terakhir kita lima bulan yang lalu. Hmm sudah lama yaaa.
Satu kali dua puluh empat jam aku menunggu dering handphoneku barangkali ada pesan darimu, nihil.
Dua puluh empat jam berikutnya dan berikutnya tetap sama, tak ada notifikasi pesan darimu, ah barangkali belum, sangkaku.
Hari demi hari berganti, aku takut (lagi) kehilanganmu untuk kesekian kali,
hingga aku menyadari bulan terus berganti dan belum juga ada tanda dari kedatanganmu, baik nyata maupun maya.
Seringkali aku bertanya, pada diri sendiri tentunya, mengapa kau mendiamkanku? Mengapa mengabaikanku? Apa kabarmu? Masih adakah rasa yang kusebut cinta bersemayan dalam hatimu?
Wahai jiwa yang kusebut cinta, bagaimana bisa aku tidak menangis jika sumber dari tangisku adalah kau!
Bagaimana bisa kau melarangku menangis jika sebab dari tangisku adalah kau!
Lantas harus berapa lama lagi aku menunggu?
Menunggumu seperti menunggu Godot, kau adalah keberadaan dari suatu ketiadaan.
Lelahku dipermainkan rasa,

Tapi aku masih punya asa!
Baca Selengkapnya

Sunday, April 21, 2019

Surat untuk Maret

Kala itu bulan November minggu kedua, aku dan kamu pergi bersama,
ini kencan pertama kita setelah sekian lama tak jumpa, setelah kau nyatakan cinta untuk yang kedua kalinya.
Meyakinkanku agar percaya pada satu rasa.
Inginku kepastian dalam rasa.
Siang itu hujan turun begitu lebatnya, namun seketika cerah saat sore hari pukul tiga.
Kita menaiki kereta rel listrik dari stasiun antara Bogor dan Jakarta.
Di gerbong nomor tiga, kita berdiri bersama manusia lainnya.
Aku suka saat kau bercerita tentang hal-hal yang kita lihat sepanjang rel kereta, aku suka saat kau tiba-tiba salah tingkah.
Aku suka saat jemari tanganmu menyentuh jemariku untuk sekadar melindungiku.
Aku suka mendengar ceritamu tentang kota kelahiranmu; begitu menggebu,
dan aku menyadari bahwa kau masih sama seperti dulu.
Aku ingin selalu bersamamu, ingin selalu mendukungmu, mendampingimu sekalipun dalam masa terpurukmu.
Berjalan denganmu adalah salah satu momen terindah dalam hidupku,
aku suka caramu memperlakukanku, aku suka melihat tingkahmu yang lucu, mendengar semua ceritamu, merasakan getaran dalam dada; yang disebut cinta.
Pada satu hari di November di antara Bogor dan Jakarta, ada rasa yang masih sama untuk jiwa yang kusebut cinta.


Baca Selengkapnya

Sunday, March 10, 2019

Surat untuk Februari

“Sampai huruf terakhir sajakku, kaulah yang harus bertanggung jawab atas air mataku.”- Sapardi Djoko Damono
Pada saat terakhir pertemuan kita beberapa bulan yang lalu, kau berkata padaku,”jangan menangis lagi ya!”
Aku hanya mengiyakan dan kata-katamu itu seperti memberiku kekuatan karena aku percaya kata-kata seperti sihir, ketika kita sedang down maka kata-kata yang bernada positif seoalah memberikan kekuatan dan menjadikan semangat lagi.
Beberapa waktu setelah itu hingga detik ini, kau tak hadir lagi. Aku bingung sendiri apa salahku atau apa penyebab kau mendiamkanku lagi. Ya lagi, karena ini bukan yang pertama kalinya kau bersikap seperti ini.
Tahukah kamu, aku yang memang gampang sekali menangis merasa kuat ketika kau menasihatiku untuk jangan mudah menangis lagi. namun kini, kau tahu? Kaulah penyebab dari butiran bening mengalir di dua belah pipiku.
Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu datang lagi atau hanya sekadar menyapa “hi” untuk menebus segala rindu yang semakin menggebu.
Aku harus bagaimana? Jika aku terus berdiam diri aku akan terus terbunuh oleh rindu, oleh dirimu yang tetap mendiamkanku. Tetapi jika aku menghubungimu tetap saja kau akan mendiamkanku.
Datanglah, jelaskanlah mengapa ini terjadi lagi? jangan biarkan aku menerka-nerka sendiri. Jika memang aku salah, maka katakan saja. Asal kau tahu tidak enak berada di posisiku, atau bisakah kita bertukar posisi? Agar tidak ada kesalahpahaman lagi?
Aku terus berpikir positif untuk terus bersabar menunggumu karena kupercaya akan ada waktu untuk segala sesuatu.

Baca Selengkapnya

Wednesday, January 23, 2019

Surat untuk Januari

Ada banyak waktu yang ingin ku habiskan denganmu
Ada banyak kisah yang ingin ku bagi padamu
Ada banyak tempat yang ingin ku kunjungi bersamamu
Ada banyak ingin yang tak sempat kuucap
Aku ingin mengajakmu menjelajahi duniaku
Berpetualang menjelajahi tempat di benakku
Mengapa harus aku yang selalu?
Aku juga ingin diperhatikan,
Aku juga ingin dirindukan,
Aku juga ingin dibutuhkan,
Aku ingin dicintai
Apakah rasamu hanya sementara?
Apa aku hnaya pelarian saja?
Seringnya ku bertanya pada diri sendiri
Mengapa kau menghilang lagi?
Mengapa kau tak ada kabar lagi?
Apa yang sedang kau lakukan?
Apa yang sedang kau pikirkan?
Mengapa kau selalu ada untuk mereka?
Mengapa kau tidak selalu ada saat aku butuh?
Mungkin benar aku tak ada artinya
Kadang aku ingin tahu segala tanya yang tak ada jawabnya,
Tapi jika ternyata alasannya menyakitiku, sudahlah aku tak ingin tahu
Jika alasannya ternyata membebanimu, sudahlah biar saja kau tak usah beritahuku
Yang harus kau tahu, ini menyakitkan bagiku
Tapi rasaku selalu sama, entah mengapa aku percaya kau akan datang lagi.



Baca Selengkapnya

Thursday, January 10, 2019

Senja di Stasiun Kereta


Jam ditanganku menunjukkan pukul 16.45, suasana di dalam gerbong yang kunaiki masih hening, hanya terdengar suara kereta yang bergesekan dengan rel dan suara kecil pendingin ruangan yang berhasil membuat gerbong ini terasa sangat dingin. Sesekali aku melihat pemandangan dari balik jendela yang terlihat hamparan sawah membentang luas, sesekali juga aku melihat pemandangan pohon-pohon yang berlalu dengan cepat secepat kereta yang melaju. Sesekali aku melihat dan mendengar pramugari dan pramugara kereta yang bergiliran menyajikan makanan, minuman, dan juga bantal.
 Hampir tiga jam aku duduk di bangku ini, rasanya sedikit membosankan karena aku hanya sendirian dan ditambah tempat duduk di sampingku sedari tadi kosong. Di gerbongku terdapat layar telivisi cukup besar yang menggantung dan sedang menyajikan sebuah film yang entah judulnya apa, tetapi percuma saja aku menontonnya karena film tersebut tidak ada suaranya dan aku tidak tahu kenapa. Anak kecil yang duduk di depanku terdengar protes kepada orangtuanya perihal film tersebut yang tidak ada suaranya dan kudengar orangtuanya mencoba memberi penjelasan, namun anak kecil tersebut terdengar tidak bisa menerima penjelasan dan bertanya lagi. Menonton film yang tidak ada suaranya dari layar tersebut tidak berhasil memecahkan kebosananku, akhirnya aku hanya bisa mendengarkan musik dari smartphoneku.
 Aku melihat jam yang melingkar di tanganku dan beralih memandang ke tiket keretaku, kulihat sebentar lagi kereta yang aku naiki akan tiba di stasiun tujuanku. Aku mempersiapkan tas dan barang yang aku bawa, kemudian terdengar suara dari pengeras suara yang menyatakan bahwa kereta yang kami naiki akan tiba di stasiun pemberhentian terakhir dan menyuruh penumpang untuk mempersiapkan barang bawaannya agar jangan sampai ada yang tertinggal.
Setelah mendengar suara dari pengeras suara, gerbongku sedikit riuh karena beberapa orang yang sedari tadi diam, entah karena tertidur atau memang tidak ingin berbicara, segera mempersiapkan tas dan barang-barang bawaannya. Beberapa dari mereka sedang menelepon seseorang yang mungkin menjemput mereka. Aku juga mengecek smartphoneku dan mencoba menghubungi sahabatku karena dia akan menjemputku di stasiun. Tidak ada jawaban dari sahabatku ketika aku menghubunginya. Aku mencoba menghubunginya sekali lagi, tetapi sama saja dia tidak mengangkatnya. Aku mengecek percakapan terakhir kami sekitar satu jam yang lalu dan kupastikan dia benar menjemputku. Aku sedikit panik karena takut sahabatku lupa dengan janjinya yang akan menjemputku tetapi aku mencoba menyakinkan diriku bahwa dia tidak akan melupakan janjinya.
Tepat pukul 17.15, kereta yang aku naiki tiba di stasiun pemberhentian terakhir. Aku dan penumpang lainnya segera bergegas keluar dari kereta. Ini adalah pertamakalinya aku menginjakkan kaki di stasiun ini sehingga aku ingin dijemput sahabatku. Stasiun ini memiliki banyak jalur, mungkin karena ini stasiun besar dan kereta yang tadi kunaiki berhenti di jalur yang paling ujung sehingga aku harus berjalan cukup jauh ke arah pintu keluar.
Aku mengecek smartphoneku lagi dan ternyata belum ada jawaban dari sahabatku, oleh karena itu aku memutuskan untuk menunggunya di tempat duduk dekat pintu keluar. Tempat duduk ini menghadap ke arah barat, aku memandang matahari senja yang sudah condong ke arah barat. Sisa-sisa cahayanya masih terpancar melalui gerbong-gerbong kereta yang sedang berhenti.
Suasana senja di stasiun ini cukup ramai oleh orang-orang yang datang dan yang akan pergi. Beberapa kursi dipenuhi oleh mereka yang sedang menunggu waktu keberangkatan. Mungkin hanya aku yang sedang menunggu untuk dijemput karena orang-orang yang tadi satu kereta denganku, kulihat mereka sudah berhamburan ke pintu keluar. Aku melihat kesibukan di stasiun ini, beberapa porter menawarkan jasanya pada para penumpang. Beberapa petugas kebersihan sedang sibuk membersihkan lantai yang mungkin tidak pernah bersih. Lalu lalang orang yang lagi-lagi akan datang dan pergi ramai sekali. Aku mengecek smartphoneku lagi, belum ada panggilan balasan dari sahabatku, aku tidak mengerti kenapa dia susah dihubungi. Aku panik karena aku takut tetap berada di sini tanpa ada orang yang aku kenal dan aku juga takut terjadi sesuatu dengan sahabatku.
Langit mulai gelap, malam sudah datang dan senja sudah berlalu. Lampu-lampu di stasiun mulai dinyalakan, suasana malam terasa lebih hidup. Orang-orang yang tadi duduk menunggu kereta sudah berangkat dan aku sudah melihat keberangkatan dan kedatangan orang-orang berkali-kali. Ini sudah hampir dua jam aku duduk di sini menunggu sahabatku dengan cemas. Aku sudah memutuskan sedari tadi jika sampai dua jam sahabatku belum juga menghubungiku maka aku akan mencoba pulang ke rumahnya yang kurang lebih akan ditempuh satu jam dari sini menggunakan jasa transportasi online.
Setelah dua jam aku menunggu, akhirnya aku memutuskan untuk bergegas karena belum ada kabar dari sahabatku. Aku memberanikan diri berjalan ke pintu keluar untuk memesan transportasi online. Saat sampai di pintu keluar stasiun, tiba-tiba aku melihat ada pesan masuk dari sahabatku. Kubaca isinya yang menyatakan bahwa dia tadi tertidur di rumah karena lelah sekali sehabis dari kampus, oleh karena itu dia terlewat menjemputku. Dia meneleponku dan menyuruhku untuk tetap menunggu karena dia sudah dalam perjalanan ke stasiun untuk menjemputku. Hatiku lega karena tidak terjadi hal buruk pada sahabatku dan aku akan segera bertemu dengannya, meskipun aku sudah lelah menunggunya.


Baca Selengkapnya