Thursday, September 3, 2020

Surat untuk September

Ketika aku merindumu, kamu merindunya.

Ketika aku ingin bertemu denganmu, kamu ingin dengannya.

Ketika aku ingin memiliki waktu bersamamu, kamu ingin bersamanya.

Setiap kali kamu datang padaku, selalu ada rasa senang sekaligus takut. Ya, aku senang karena kamu datang lagi, namun aku juga takut kamu pergi lagi. 

Bukankah itu siklus kehidupan? Atau itu siklus rasa yang tak abadi?

Entahlah, yang aku tahu pasti bahwa aku ingin kamu menetap.

Aku tahu, terselip keraguan pada pertanyaan yang kau utarakan. Apakah kau sebegitu ingin tahunya alasan di balik rasa ini? Bukankah tidak semua hal selalu mempunyai alasan? Ya, tentu semua ada prosesnya.

Setiap teringat hal itu selalu tersemat rasa takut, pada hal-hal yang belum pasti, pada rasa yang tak abadi, pada janji yang mungkin tak bisa ditepati, pada kepastian yang tidak pasti.

Pada hari esok, lusa, dan hari jauh di masa depan, akankah aku selalu merasa aman?

Tentang ketidaksempurnaan, bukankah kita semua tidak sempurna? Mengapa tak saling melengkapi?

Jangan mencari yang sempurna baru kamu bahagia, tetapi terimalah ketidaksempurnaan itu baru kamu bisa bahagia.

Tentang kebahagiaan, mengapa selalu menanyakan hal ini? Bagaimana kamu mendefinisikannya?

Aku, sederhana saja, ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu lainnya terbuka. Namun, seringkali kita terlalu lama melihat pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak bisa melihat pintu yang terbuka bagi kita.

Maka lihatlah lebih dekat, sadarilah, mengertilah, dan bersyukurlah.

Baca Selengkapnya

Saturday, August 15, 2020

Surat untuk Agustus

Pertanyaanmu kala itu masih mengganggu pikiranku. Bagaimana mungkin aku mencari laki-laki lain! Bagaimana mungkin! Mengapa kau harus bertanya demikian? Apakah kau tahu bagaimana aku selama ini menjaga hati untuk siapa? Untuk siapa lagi kalau bukan untukmu!

Lantas mengapa kau merasa bingung? aku bingung mengapa kau bingung dan aku bingung mengapa aku harus bingung. 

Perasaan ini kurawat dengan kesabaran dan harapan-harapan baik, pun ku selalu berpikiran positif tentangmu. Apakah kau belum juga melihat tulusku? Mengapa kau meragukanku? 

Ya, memang ini pertanyaan retoris. Memantul ke arah diriku lagi karena kau belum juga akan menjelaskannya atau bahkan sama sekali tak berniat untuk menjelaskannya. Pada akhirnya aku yang harus merenung dan merefleksikannya.

Kenyataan bahwa tidak (lagi) dicintai oleh orang yang dicinta membuat terbentuknya sebuah rasa sadar diri yang menggiring pada keadaan yang tidak baik-baik saja. Mungkin akan berpura-pura menjadi terlihat baik-baik saja agar dilabeli sebagai manusia kuat. 

Aku menyadari bahwa ada alasan di balik segala sikapmu, aku mengerti bahwa segala sesuatu terjadi pasti ada penyebabnya. Komunikasi memang penting agar tidak terjadi sebuah kesalapahaman, namun aku mengerti bahwa tidak segala hal bisa diceritakan dan ada hal yang memang belum bisa dijelaskan saat ini, maka yang hanya bisa dilakukan adalah bersabar sampai kau bisa berbagi cerita.

Dalam kebingungan yang melingkupi pikiran, dalam renungan yang panjang, dalam kesendirian. Aku teringat saat kau bercerita tentang kisah di masa lalumu. Kini aku paham bahwa memang masih ada memorimu tentang seseorang dari masa lalu yang pernah menghiasi hari-harimu. Aku mengerti hatimu pasti sakit sekali. Kini, biar kuberi sedikit kata-kata; tahukah kamu bahwa tahap mencintai yang paling tinggi adalah saat kau bisa mengikhlaskan kepergian seseorang entah itu berpisah karena maut atau dia pergi meninggalkanmu demi seseorang pilihannya yang membuatnya lebih bahagia. 

Selamat menikmati kesakitan yang tak bisa kau tahan. Selamat menikmati kehampaan yang tak berujung. Selamat menikmati tangisan yang tak lagi bersuara.

Namun, satu hal yang harus kau tahu bahwa kesedihanmu jangan berlarut-larut. Kebahagianmu ada pada dirimu sendiri, bukan pada entitas lain. Tersenyumlah dan bangkitlah. Bersyukurlah karena kau layak dicinta. 

Dalam ruang kedap rasa, semoga kamu mengerti bahwa aku begitu berarti. 


Baca Selengkapnya

Tuesday, July 7, 2020

Ada Apa di Dunia Sophie?



Dunia Sophie merupakan sebuah novel filsafat yang ditulis oleh Jostein Gaarder. Novel ini pertama kali diterbitkan pada 1991 dalam bahasa Norwegia dengan judul Sofie’s Verden. Hingga kini, novel ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia dan tentu saja membuatnya menjadi novel bestseller. Hal tersebut didapat tentu saja karena novel ini sangat unik, yakni menyampaikan cerita sejarah filsafat dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti.

Aku pertama kali baca novel ini saat masih sekolah, mungkin saat kelas 11. Ketika itu, aku memutuskan dan tertarik dengan novel ini karena rekomendasi dari salah satu tutor Zenius, yaitu bang Sabda (Rekomendasi Buku). First impression membaca novel ini adalah aku pikir novel ini sungguh absurd, tidak dapat mengerti, tapi sebenarnya sangat menarik! Mengapa begitu? Karena novel ini menceritakan tentang sejarah filsafat!
Dunia Sophie bercerita tentang seorang gadis berusia 15 tahun bernama Sophie yang dikejutkan oleh surat-surat misterius yang terus diterimanya. Isi surat tersebut hanya sebuah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang belum pernah dipikirkannya, seperti “siapa kamu”, “dari mana datangnya dunia”, dan sebagainya. Pertanyaan tersebut lantas membuatnya heran dan tersentak sehingga ia mulai mencoba mencari jawabannya. Siapa sangka ternyata pengirimnya merupakan seorang filsuf yang kemudian memberikan kelas filsafat dengan mengajarkan sejarahnya dari mulai zaman Yunani, abad pertengahan, renaissance, abad pencerahan, hingga zaman modern (abad ke dua puluh).
Membaca Dunia Sophie memberikan pengalaman baru bagiku saat itu. Aku merasa mendapatkan apa yang Sophie dapatkan, yakni mempelajari filsafat. Mungkin saat itu aku belum begitu paham tentang filsafat, namun dengan membaca novel ini membuatku berpikir bahwa filsafat sangat menarik untuk dipelajari. Filsafat dapat diartikan secara sederhana sebagai suatu gerak pikiran yang wajar, sealamiah kita bernapas, dan sesederhana rasa ingin tahu yang besar yang telah kita miliki sejak masa kecil. Membaca novel ini sama halnya dengan membaca buku sejarah, namun tidak disajikan secara monoton dan membosankan. Sebaliknya, novel ini justru memberikan kita keinginan untuk terus menerus membaca hingga tuntas karena disajikan dengan menarik, sangat menghibur, dan memberikan pesan filosofis yang menantang daya pikir.
Dunia Sophie menjadi pilihan yang baik bagi kalian yang ingin belajar filsafat dengan cara yang berbeda. Kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh filsuf dari zaman Yunani, abad pertengahan, hingga zaman modern. Meskipun tentu saja disajikan dengan gaya Eropa sentris sehingga tidak menyinggung banyak tentang filsafat Timur (India, Tiongkok, Islam). Efeknya adalah kita dapat merefleksikan apa yang telah kita baca dalam novel ini dan memiliki dorongan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna dan tujuan hidup.
Menariknya, novel ini juga cukup membantuku saat kuliah di kelas matkul filsafat karena aku cukup memiliki gambaran umum tentang sejarah filsafat dari novel ini, meskipun masih harus membaca lebih banyak buku pengantar filsafat lagi. Setiap tokoh filsuf dengan gagasan, pemikiran, dan ilmunya bisa jadi cocok atau tidak cocok dengan kehidupan kita. Kita sendirilah, sebagai pembaca, yang bisa memilah dan memilih segala hal yang bisa kita terima; memfilternya mana yang dirasa bisa diterima dan mana yang tidak. Tidak semua yang baik itu sesuai dengan kehidupan kita. Banyak hal baik yang mungkin kurang kompatibel dengan situasi hidup kita saat ini. Masing-masing gagasan atau pemikiran setiap filsuf memiliki jatah benarnya sendiri sesuai dengan konteksnya.
Secara keseluruhan, novel ini sangat direkomendasikan untuk kalian yang ingin mengetahui sejarah filsafat yang dikemas dengan bahasa yang sederhana dan penceritaan yang unik.
“Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.” Goethe


Baca Selengkapnya

Thursday, July 2, 2020

Surat untuk Juli


Juli pada semua keheningan yang dipecahkan oleh temu pada hal-hal baru. Ada harapan baik pada bulan baik yang berisi kenangan manis pada sesuatu yang jauh; nostalgia. Semoga tetap sama atau tumbuh semakin baik. Hal-hal tersebut mengarah pada situasi saat ini, yang diharapkan masih juga baik.
Tidak ada kata selesai, pun kata usai. Semuanya masih berlanjut seperti dulu, namun ada hal yang dirasa baru. Segala keheningan, kesepian, dan kesendirian harus diganti dengan semangat menyambut hal yang baru yang tak benar-benar baru. Entah mengapa ketiga rasa itu terasa nyaman hingga enggan keluar. Namun, harus ada yang menanggung beban lebih dan kehidupan harus terus berlanjut, bagaimanapun juga waktu terus merangkak maju.
Ada kata yang belum tersampaikan, ada pernyataan yang belum dijawab. Segala sesuatu itu memberikan beban pikiran baru, segala tanya yang juga belum sanggup diajukan, segala rindu yang belum berujung temu. Di sepanjang waktu, beban pikiran itu mengarah pada ketakutan kepada hal yang dirasa belum pasti; masa yang akan datang. Masa yang jauh itu, yang hanya sejengkal mata, entah akan bagaimana mengarah ke sana, selain dengan semangat dalam diri dan optimisme tinggi. Pada akhirnya, masih harus menunggu dan tetap bersabar. Dan wahai diri, kau harus lebih kuat lagi.

Baca Selengkapnya

Saturday, June 6, 2020

Halo Juni Lagi


Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog ini, maafkan aku bukan karena aku mengabaikanmu, bukan karena aku melupakanmu, bukan karena sudah tidak ada lagi cerita melalui surat yang ku tulis setiap bulannya. Aku hanya sok sibuk sehingga aku tidak bisa meluangkan waktu untuk sekadar menulis sepatah kata atau menuangkan cerita di blog ini. Aku rindu menulis. Bagiku, menulis adalah media paling mudah dalam menyembuhkan segala luka.

Aku rindu padanya, tapi apakah rindu ini dibalasnya? Aku hanya menduga bahwa rinduku tak dibalasnya, bahwa barangkali ia merindukan yang lain. Ini hanya dugaan, hipotesa, mengingat bahwa aku akan selalu mencoba berpikir positif tentangnya.
Apakah kau pernah merasakan diabaikan begitu saja? Aku sepertinya sering. Misalnya ketika di kolom obrolan pesan hanya diread saja. Lebih menyakitkan pesan diread saja atau tidak diread sama sekali atau bahkan didiamkan tanpa kejelasan. Ah iya mungkin baginya itu sesuatu yang tidak penting, sama sekali tidak penting.
Terkadang lebih menyakitkan ditinggal begitu saja tanpa kejelasan. Hey, apakah dia tahu bahwa aku memikirkannya, bahwa aku mengkhawatirkannya. Bayangkan saja bagaimana rasanya.

Apakah kau juga pernah merasakan mencinta seseorang yang sama untuk waktu yang lama? Aku sudah merasakannya sampai saat ini sejak pertemuan pertama di tiga tahun lalu.
Tapi, apakah dia juga sama? Entahlah.
Bahwa sahabatku selalu menanyakan hubunganku dengannya. Bagaimana ku menjawabnya? Karena pada dasarnya aku juga tidak tahu hubungan kita apa.
Nampaknya aku memang bukan siapa-siapa, I mean, mungkin memang dia tidak menganggap eksistensiku. I just a speck of dust within the galaxy.


Baca Selengkapnya

Friday, September 27, 2019

Surat untuk September


Semuanya terlihat masih sama
tak ada yang spesial,
masih sama seperti tahun-tahun lalu.
namun tak ada ucapan darimu.
mengapa begitu?
tidak ingatkah? atau memang sengaja?
barangkali yang benar adalah pilihan yang kedua, entah apa alasannya.
Meskipun begitu aku tetap mensyukuri segala hal yang telah diberi dan yang ada pada diri.
Aku akan terus berusaha untuk mengenali diri sendiri, mencoba berdamai dengan segala hal yang terjadi.
Dan yang pasti aku harus terus belajar, belajar untuk selalu kuat dan belajar untuk belajar.
selalu mencintai apa yang aku kerjakan dengan sepenuh hati.
"Bahumu harus kuat, hidupmu harus hebat."


Baca Selengkapnya

Sunday, September 1, 2019

Surat untuk Agustus

Awalnya aku bahagia sekali karena kau datang lagi,
Namun di lain sisi aku bertanya-tanya sendiri
Apakah kau akan menetap atau pergi lagi?
Aku mencoba menangkis pemikiran ini,
Meyakini diri dan menikmati waktu yang akan menjadi memori.
Yang aku tahu, aku sangat mengenal situasi ini.
Ya, ini sebuah repetisi,
Tentang engkau yang datang dan pergi sesuka hati,
Aku sudah paham sekali tentang situasi ini
Karena ini sudah beberapa kali.
Wahai diri apakah masih belum mengerti tentang isi hati?
Aku bersedia menemanimu sampai ujung hari nanti.
Apa kau masih belum pahami tentang kalimat ini?
Ah, iya ini memang repetisi!
Tapi perlu kau tahu saat kau tanya,”mau apa lagi?”
Sejujurnya aku ingin menjawab,”aku mau kau terus ada di sini, menemaniku melewati masa-masa sulit dalam hidup ini dan jangan pernah pergi lagi.”
Namun apa daya, aku hanya bisa diam karena bagiku aku sudah bahagia saat itu melihatmu ada di sisi.
Aku berharapan baik agar kau pada akhirnya menetap tanpa pernah pergi lagi.
Baca Selengkapnya