Monday, April 4, 2016

Why?

Kenapa?
Mengapa aku disini?
Mengapa aku ditakdirkan untuk berada disini?
Satu per satu mulai terjawab, sungguh indah, ini seperti rangkaian mozaik yang dikatakan Andrea dibukunya.
Satu persatu mulai ku temukan dalam perjalanan panjang melalui hari-hari yang melelahkan, kini aku mulai sadar Allah benar-benar mempunyai rencana yang indah untukku, aku sekarang mulai tahu pasti, aku sadar dulu aku teramat sangat egois , tapi disini aku belajar untuk mengerti bagaimana itu hidup, aku sekarang sedikit paham. Maha Kuasa Allah yang menakdirkanku disini menjadi salah satu orang yang beruntung diantara ribuan orang lainnya, aku mulai memahami sungguh luar biasa agungnya nikmat Allah J
Baca Selengkapnya

Tuesday, February 23, 2016

Scary


Rabu, 24 Februari 2016

Tadi malam sekitar pukul 23.30 aku terbangun! Aku mimpi buruk! Aku takut, teramat sangat takut! Dalam mimpi itu terasa sangat nyata, ada suara wanita memanggilku, pelan tapi menyakitkan seolah meminta bantuan, aku setengah tersadar, terasa sangat nyata, aku mencoba untuk bangun tapi aku tak sanggup untuk berdiri dari tidurku. Teramat sangat suram, masih setengah sadar, ada suara lagi, jeritan, ketukan pintu amat sangat keras, aku ingin menggapai pintu namun tanganku tak sampai ke pintu, aku ingat pintu terkunci, aku ingin menangis, aku takut. Masih setengah sadar, aku yakin ini hanya mimpi, tapi suara itu teramat sangat jelas ditelingaku, seperti ada seseorang dibalik jendela, aku mencoba untuk membuka mata, terbuka perlahan dalam hati berteriak jangan ganggu aku dan ketenanganku, aku terpejam lagi. Ada suara langkah kaki yang sangat banyak dan sangat berisik, tapi kelihatannya suara kaki itu seperti berlari, seperti dari lantai atas, aku diselimuti rasa takut, Ya Allah lindungi aku! teriakku dalam hati, aku tak tahu benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, suara wanita itu terdengar lagi, aku mencoba membuka mata, masih gelap dan setengah sadar tapi aku ingin bangun dan teriak lalu berlari, ah ibu aku rindu, aku butuh ibu, ibu aku sangat takut, suara apa itu? Ayah aku takut, coba ada ayah sama ibu pasti ada yang bias menenangkanku, air mata itu sudah mengalir deras didua belah pipiku, antara sadar dan tidak sadar, apa yang terjadi? Tertidur lagi, ada suara langkah yang cepat, sangat berisik, apa yang terjadi diluar, ku dengar ada yang berteriak dan suara itu datang lagi, aku bangkit dari tidur lalu ku baca ayat kursi, abu beristighfar, hatiku sedikit tenang, sekarang lebih baik, aku mencoba bangkit dari tidurku, masih ada rasa takut, aku mencari ponselku menghubungi seseorang yang jauh disana, tersambung, aku mendengar suaranya, aku ceritakan padanya tentang mimpiku, aku sedikit menangis, dia menenangkanku, katanya aku harus berdoa sebelum tidur, aku tersadar tadi aku tidur lupa membaca doa, itulah sebabnya aku mimpi seperti itu rupanya. Aku ingin tidur lagi, namun aku masih terjaga, masih ada sisa rasa takut itu, suara itu, langkah kaki itu, teriakan itu, semuanya teramat nyata seperti menghantuiku, aku tak bias terpejam, aku menghubunginya lagi, dia menemaniku, dia mengatakan sesuatu padaku, aku terkejut, Dan, aku mencintaimu! Gosh!
Baca Selengkapnya

Thursday, January 28, 2016

Mozaik Satu

Mozaik Satu

Aku merindukanmu…
Mengapa kita masih belum  bisa dipertemukan juga?
Haruskah aku kesana?
Aku harus bagaimana?
Aku ingin bertemu kamu, kau tahu?
Mimpiku dan mimpimu seolah satu,
Ah mengapa begitu?
Kebetulankah?
Aku sungguh tak tahu…
Inikah takdir?
Mengapa tempat yang kita tuju adalah satu?
Aku masih belum tahu,
Kebetulankah? Atau inikah sebuah takdir itu?
Ah, aku masih tak mengerti juga!
Mengapa ini terjadi? Ada apa dibalik ini?
Aku masih mencari,
Tapi nyatanya, kita masih belum bisa dipertemukan juga…


Baca Selengkapnya

Sunday, December 27, 2015

You Belong With Me




You Belong With Me
Matahari senja begitu indah, kupandangi bias cahayanya sambil duduk di bawah pohon pinus dengan kamu yang ada disampingku. Aku ingat, begitu sering kita melewati saat-saat seperti ini, kita selalu bahagia jika kita memandang langit sore yang elok sambil menunggu senja duduk berdua dan mendengarkan suara kicauan burung gereja yang bertengger diatas ranting. Sore itu selalu indah jika bersamamu dan ditambah lagi dengan pewarnaan senja yang begitu menawan, sungguh anugerah Tuhan yang sempurna.
Kupandangi wajahmu dari arah samping, wajah yang teduhkan hati ini yang selama dua tahun ini menghiasi hatiku dan mewarnai hari-hariku, tahukah kamu aku selalu mengagumi indahnya pewarnaan dirimu.
“Bolehkah jika aku membenci seseorang?” tanyaku memecah keheningan.
“hhmmm…kalau menurut ajaran agama sih jelas ngga boleh tapi kalau diluar konteks agama, umm…pada dasarnya rasa benci itu ketika kita melihat atau bertemu seseorang yang kita benci, namun lama-lama juga akan terlupakan.” Jawabmu lugas, aku tersentak mendengar penuturanmu. Tahu kah kamu aku ingin menceritakan sumber dari rasa benci ini, rasa benci pada seseorang yang entahlah timbul begitu saja ketika ku mengetahui bahwa orang itu menyukaimu. Damn! Aku tak ingin dia menyukai atau ingin merebut apa yang hatiku miliki, tak akan kubiarkan. Tahukah kau kasih, hati ini seperti teriris ketika ku tahu bahwa temanku menyukaimu, kamu kekasihku meskipun ku tahu hatimu dan kamu hanya tercipta untukku, setidaknya aku pandai meyakinkan hatiku bahwa kamu hanya untukku, bukan untuknya bukan untuk mereka, you belong with me baby. Hasrat ku ingin menceritakan padamu namun rasanya sangat sesak, susah sekali untuk mengutarakan padamu bahwa aku tak ingin kehilanganmu, bahwa aku tersiksa ketika ku berada jauh dari jangkauanmu, bahwa hatiku ingin selalu dekat denganmu, bagaimana bisa aku mengutarakan padamu bahwa ada seseorang yang diam-diam mengagumimu dan menginginkanmu, tapi bukan aku sayang! Butiran kristal bening ini tiba-tiba saja meluncur deras di dua belah pipiku, aku terisak.
“Hey kamu kenapa, apa yang terjadi?” ku dengar kamu bertanya, nada suaramu terdengar khawatir.
“aku hanya takut, takut kamu menjauh dariku.” Jawabku singkat namun sanggup membungkam mulutmu. Sejurus kemudian kau mendekap hangat tubuhku, membiarkan aku bertumpu didada bidangmu, ku rasakan detak jantungmu begitu cepat, aku masih terisak, harusnya tadi aku tak usah mengakuinya. Setelah beberapa menit, kamu melepaskan rengkuhan ini lalu kau memandangi wajahku, tatapanmu begitu teduh menghujam jantungku, aku tersipu! Sepersekian detik kemudian kau mengacak rambutku yang tergerai dan tertata rapi.
“hahaha kamu ngomong apa sih, aku masih disini, aku ngga akan jauh dari kamu!” aku mendengus kesal sambil membenarkan tatanan rambutku yang tadi kamu mengacaknya ketika kau menuturkan kata-kata itu, hey tahukah sayang aku sungguh-sungguh berkata seperti itu tapi kau anggap aku hanya bercanda, tidak!
“aku serius, aku takut.” Ujarku jujur, kudengar tawamu mulai lenyap begitu saja, kau menatapku dan tatapan itu begitu teduh, aku menyukai tatapan teduh itu, mata indah itu, mata yang dengannya aku bisa melihat kesungguhan dari setiap ucapan yang kamu lontarkan, mata indah itu yang selalu memancarkan cahaya cinta, mata indah yang dengannya selalu kau ceritakan keindahan dunia padaku saat aku tak ingin bergantung dengan benda menyebalkan bernama kacamata,  matamu mataku juga.
“hey sebenarnya apa yang terjadi, ceritakan padaku!” gelagatku sepertinya membuatmu curiga padaku, adakah kau merasa bahwa aku tak sedang baik-baik saja?
“jika ada seseorang yang lebih mencintaimu daripada aku, apakah kamu akan pergi dariku?”
“tidak!”
“meskipun seseorang itu menawarkan keindahan cinta padamu.”
“tidak.”
“Meskipun dia lebih cemerlang dariku.”
“tidak”
“meskipun dia sangat mengagumi dan menyayangimu.”
“tidak, tidak akan! Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu dihatiku!” kamu sedikit berteriak ketika ku menghujammu beberapa pertanyaan yang mungkin membuatmu heran.
“meskipun…” aku terisak
“cukup…!”
“meskipun dia temanku yang sedari dulu menyukaimu sebelum ku mengenal dan dekat denganmu?” air mata ini sudah tak bisa kutahan lagi, aku tak bisa menyembunyikan ini semua, dada ini terasa sesak namun kulihat kamu diam terpaku ketika ku melontarkan kata-kata terakhir itu. Kemudian kau membangunkan tubuh ini, kau rengkuh tubuh lemahku, lalu kau bisikkan kata-kata yang sedikit membuat hatiku tenang, “Tidak, tidak peduli. Hatiku sudah dimiliki wanita yang membuat hari-hariku berwarna, wanita yang sanggup membuatku merasa hebat, wanita yang sanggup membuatku tahu arti hidup, wanita yang mengajariku untuk bisa melihat hal-hal kecil dan yang paling penting wanita itu telah mengajariku arti cinta yang sebenarnya dan kau tahu yang membuatku lebih bahagia lagi yaitu wanita itu kamu, Cuma kamu.”
“tapi aku membenci dia yang selalu ingin tahu semua tentang kamu, aku benci dia yang selalu mengikuti gayaku, aku benci dia yang dibelakangku dia mencoba untuk mencari cara bagaimana aku lepas denganmu, dia terlalu menyayangimu.”
“harusnya kamu bisa membuat dia menyerah akan usahanya untuk merebut aku dari kamu.”
“bagaimana caranya, aku tak sanggup melukai hatinya, dia temanku bahkan dia temanmu juga, dia berteman lebih dulu denganmu sejak aku belum mengenalmu.”
“kau tunjukan saja pada dia bahwa kekuatan cinta aku dan kamu jika disatukan akan menghasilkan kekuatan yang bisa menghancurkan mimpi-mimpi dia yang ingin merebut aku dari kamu.”
“bantu aku…”
“pasti, aku akan membantumu.” Kami terdiam untuk beberapa saat, keheningan mulai tercipta lagi namun aku yakin kita sedang berbicara dari hati kehati, hati ini sangat nyaman ketika kau mengerti aku, ketika ku melihat kesungguhan hatimu mencintaiku, ketika ku melihat sikap dewasamu. Bersama dengan senja yang pergi menyusul sang malam ke peraduannya, kita iringi kepergian senja dengan kisah yang membuat kekuatan cinta kita akan lebih kuat lebih dari sebelumnya, kita tutup kisah ini dengan sosok senja yang begitu indah.
The End
Baca Selengkapnya

Saturday, December 5, 2015

Wherever You Are

Cirebon, 4 April 2015
Detik-detik menjelang Ujian Nasional... 
Hi kamu, iya kamu, kamu yang disitu, apa kabar?
Bagaimana kabar ayah,ibu dan kakakmu? Bagaimana dengan harimu? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu sibuk? Ah aku merindukanmu, sangat. Rasa ini, rasa rindu ini sangat menyiksa batinku, aku ingin bertemu kamu! Tapi kemanakah kamu? Aku tak pernah melihatmu lagi, aku ingin melihat wajah sendumu, aku ingin melihat mata teduhmu, aku ingin mendengar tawa jenakamu, aku ingin merasakan kehadiramu, aku, aku… aku begitu tersiksa tanpamu disisiku. Ini sangat mengkhawatirkan, ini situasi siaga, ah kenapa semenyedihkan ini jika merasakan rindu, ah aku benci kamu! Apakah kamu merindukanku? Ah aku benci aku tak tahu apakah kau merindukanku juga atau tidak.
Sudah tiga tahun ini kita terpisah dan tiga tahun ini aku tak pernah berjumpa denganmu, aku ingin bertegur sapa denganmu, tapi melihatmu saja aku tak pernah, ah payah! Mengapa rasanya begitu lemah, mengapa aku rasanya digerogoti rasa rindu yang sangat membuncah, sungguh ingin kupecahkan saja. Hey kamu, sebenarnya kamu ada dimana? Kamu masih ada diplanet bumikah? Atau jangan-jangan kau diculik oleh alien? Atau apakah kamu tertangkap oleh mata-mata FBI karena kamu melakukan kejahatan gelap? Atau apakah kamu bergabung dengan sindikat berbahaya? Atau apakah kamu sedang bersembunyi karena kamu masuk dalam daftar buronan teroris? Argggh abaikan semua dugaan-dugaam yang tak masuk akal, itu hanya pemikiranku yang sedikit radikal dan aku pusing memikirkannya.
Kamu tahu galau? Ah aku curiga mungkin kamu tak tahu apa artinya, eh bukanku meremehkanmu hanya saja aku melihat fakta bahwa kamu sangat tidak peka dan tidak peduli pada lingkunganmu, jadi aku simpulkan saja kalau kamu itu tidak pernah merasakan bagaimana itu galau, meski aku menyimpulkannya sepihak tanpa seizin kamu tidak apa-apakan? Oke aku jelaskan galau itu bukan nama bakteri ya catat itu, galau juga bukan sejenis virus computer atau barangkali kamu berfikir galau itu nama game terbaru yang sepertinya seru oh maaf saja bukan, galau itu begini saja gampangnya kamu pernah tidak merasa makan tak enak, tidur pun tak nyenyak? Kamu pernah merasa makan tak enak, tidur pun tak nyenyak karena suatu hal? Jika pernah itu merupakan indikasi dari rasa galau.
Kamu tahu tidak? Aku galau, aku galau karena kamu, rasanya sungguh tersiksa. Aku ingin menyapamu, sekedar ingin menyapa saja sangat susah, kamu menghilang kemana sih? Aku kehilangan jejakmu…
Nasihat bijak :
“Don’t trust too much,
Don’t love too much,
Don’t hope too much,

Because that too much can hurt you so much”

Baca Selengkapnya

Saturday, November 21, 2015

Jalanku Masih Panjang


Wahai perasaan
Kau buat pagiku jadi mendung, soreku jadi kelam
Kau buat siangku jadi gelap, dan malam semakin gulita
Kau buat beberapa menit lalu aku gembira,
untuk kemudian bersedih hati...
Wahai perasaan
Kau buat aku berlari di tempat
Semakin berusaha berlari, kaki tetap tak melangkah
Kau buat aku berteriak dalam senyap
Kau buat aku menangis tanpa suara
Kau buat aku tergugu entah mau apalagi
Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang gila
Mengunjungi sesuatu setiap saat, untuk memastikan sesuatu
Padahal buat apa?
Ingin tahu ini, itu, untuk kemudian kembali sedih
Padahal sungguh buat apa?
Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang bingung
Semua serba salah
Kau buat aku tidak selera makan, malas melakukan apapun
Memutar lagu itu-itu saja,
Mencoret-coret buku tanpa tujuan
Mudah lupa dan ceroboh sekali
Wahai perasaan
Cukup sudah
Kita selesaikan sekarang juga
Karena,
Jalanku masih panjang
Aku berhak atas petualangan yang lebih seru
Selamat tinggal
Jalanku sungguh masih panjang....
*Tere Liye
Baca Selengkapnya

Wednesday, July 8, 2015

Tentang Seseorang

Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Ku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri

Aku benci                                                                         

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, 

biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai?

(Rako Prijanto dalam film Ada Apa Dengan Cinta)
Baca Selengkapnya