You
Belong With Me
Matahari
senja begitu indah, kupandangi bias cahayanya sambil duduk di bawah pohon pinus
dengan kamu yang ada disampingku. Aku ingat, begitu sering kita melewati
saat-saat seperti ini, kita selalu bahagia jika kita memandang langit sore yang
elok sambil menunggu senja duduk berdua dan mendengarkan suara kicauan burung
gereja yang bertengger diatas ranting. Sore itu selalu indah jika bersamamu dan
ditambah lagi dengan pewarnaan senja yang begitu menawan, sungguh anugerah
Tuhan yang sempurna.
Kupandangi
wajahmu dari arah samping, wajah yang teduhkan hati ini yang selama dua tahun
ini menghiasi hatiku dan mewarnai hari-hariku, tahukah kamu aku selalu mengagumi
indahnya pewarnaan dirimu.
“Bolehkah
jika aku membenci seseorang?” tanyaku memecah keheningan.
“hhmmm…kalau
menurut ajaran agama sih jelas ngga boleh tapi kalau diluar konteks agama,
umm…pada dasarnya rasa benci itu ketika kita melihat atau bertemu seseorang
yang kita benci, namun lama-lama juga akan terlupakan.” Jawabmu lugas, aku tersentak
mendengar penuturanmu. Tahu kah kamu aku ingin menceritakan sumber dari rasa
benci ini, rasa benci pada seseorang yang entahlah timbul begitu saja ketika ku
mengetahui bahwa orang itu menyukaimu. Damn! Aku tak ingin dia menyukai atau
ingin merebut apa yang hatiku miliki, tak akan kubiarkan. Tahukah kau kasih,
hati ini seperti teriris ketika ku tahu bahwa temanku menyukaimu, kamu
kekasihku meskipun ku tahu hatimu dan kamu hanya tercipta untukku, setidaknya
aku pandai meyakinkan hatiku bahwa kamu hanya untukku, bukan untuknya bukan
untuk mereka, you belong with me baby. Hasrat ku ingin menceritakan padamu
namun rasanya sangat sesak, susah sekali untuk mengutarakan padamu bahwa aku
tak ingin kehilanganmu, bahwa aku tersiksa ketika ku berada jauh dari
jangkauanmu, bahwa hatiku ingin selalu dekat denganmu, bagaimana bisa aku
mengutarakan padamu bahwa ada seseorang yang diam-diam mengagumimu dan
menginginkanmu, tapi bukan aku sayang! Butiran kristal bening ini tiba-tiba
saja meluncur deras di dua belah pipiku, aku terisak.
“Hey
kamu kenapa, apa yang terjadi?” ku dengar kamu bertanya, nada suaramu terdengar
khawatir.
“aku
hanya takut, takut kamu menjauh dariku.” Jawabku singkat namun sanggup
membungkam mulutmu. Sejurus kemudian kau mendekap hangat tubuhku, membiarkan
aku bertumpu didada bidangmu, ku rasakan detak jantungmu begitu cepat, aku
masih terisak, harusnya tadi aku tak usah mengakuinya. Setelah beberapa menit,
kamu melepaskan rengkuhan ini lalu kau memandangi wajahku, tatapanmu begitu
teduh menghujam jantungku, aku tersipu! Sepersekian detik kemudian kau mengacak
rambutku yang tergerai dan tertata rapi.
“hahaha
kamu ngomong apa sih, aku masih disini, aku ngga akan jauh dari kamu!” aku
mendengus kesal sambil membenarkan tatanan rambutku yang tadi kamu mengacaknya
ketika kau menuturkan kata-kata itu, hey tahukah sayang aku sungguh-sungguh
berkata seperti itu tapi kau anggap aku hanya bercanda, tidak!
“aku
serius, aku takut.” Ujarku jujur, kudengar tawamu mulai lenyap begitu saja, kau
menatapku dan tatapan itu begitu teduh, aku menyukai tatapan teduh itu, mata indah
itu, mata yang dengannya aku bisa melihat kesungguhan dari setiap ucapan yang
kamu lontarkan, mata indah itu yang selalu memancarkan cahaya cinta, mata indah
yang dengannya selalu kau ceritakan keindahan dunia padaku saat aku tak ingin
bergantung dengan benda menyebalkan bernama kacamata, matamu mataku juga.
“hey
sebenarnya apa yang terjadi, ceritakan padaku!” gelagatku sepertinya membuatmu
curiga padaku, adakah kau merasa bahwa aku tak sedang baik-baik saja?
“jika
ada seseorang yang lebih mencintaimu daripada aku, apakah kamu akan pergi
dariku?”
“tidak!”
“meskipun
seseorang itu menawarkan keindahan cinta padamu.”
“tidak.”
“Meskipun
dia lebih cemerlang dariku.”
“tidak”
“meskipun
dia sangat mengagumi dan menyayangimu.”
“tidak,
tidak akan! Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu dihatiku!” kamu
sedikit berteriak ketika ku menghujammu beberapa pertanyaan yang mungkin
membuatmu heran.
“meskipun…”
aku terisak
“cukup…!”
“meskipun
dia temanku yang sedari dulu menyukaimu sebelum ku mengenal dan dekat
denganmu?” air mata ini sudah tak bisa kutahan lagi, aku tak bisa menyembunyikan
ini semua, dada ini terasa sesak namun kulihat kamu diam terpaku ketika ku
melontarkan kata-kata terakhir itu. Kemudian kau membangunkan tubuh ini, kau
rengkuh tubuh lemahku, lalu kau bisikkan kata-kata yang sedikit membuat hatiku
tenang, “Tidak, tidak peduli. Hatiku sudah dimiliki wanita yang membuat
hari-hariku berwarna, wanita yang sanggup membuatku merasa hebat, wanita yang
sanggup membuatku tahu arti hidup, wanita yang mengajariku untuk bisa melihat
hal-hal kecil dan yang paling penting wanita itu telah mengajariku arti cinta
yang sebenarnya dan kau tahu yang membuatku lebih bahagia lagi yaitu wanita itu
kamu, Cuma kamu.”
“tapi
aku membenci dia yang selalu ingin tahu semua tentang kamu, aku benci dia yang
selalu mengikuti gayaku, aku benci dia yang dibelakangku dia mencoba untuk
mencari cara bagaimana aku lepas denganmu, dia terlalu menyayangimu.”
“harusnya
kamu bisa membuat dia menyerah akan usahanya untuk merebut aku dari kamu.”
“bagaimana
caranya, aku tak sanggup melukai hatinya, dia temanku bahkan dia temanmu juga,
dia berteman lebih dulu denganmu sejak aku belum mengenalmu.”
“kau
tunjukan saja pada dia bahwa kekuatan cinta aku dan kamu jika disatukan akan
menghasilkan kekuatan yang bisa menghancurkan mimpi-mimpi dia yang ingin
merebut aku dari kamu.”
“bantu
aku…”
“pasti,
aku akan membantumu.” Kami terdiam untuk beberapa saat, keheningan mulai
tercipta lagi namun aku yakin kita sedang berbicara dari hati kehati, hati ini
sangat nyaman ketika kau mengerti aku, ketika ku melihat kesungguhan hatimu
mencintaiku, ketika ku melihat sikap dewasamu. Bersama dengan senja yang pergi
menyusul sang malam ke peraduannya, kita iringi kepergian senja dengan kisah
yang membuat kekuatan cinta kita akan lebih kuat lebih dari sebelumnya, kita
tutup kisah ini dengan sosok senja yang begitu indah.
The End
No comments:
Post a Comment