Friday, June 1, 2018

Tentang Kecewa


Aku sering berharap lebih pada manusia, hingga pada akhirnya ketika harapanku tak terpenuhi maka aku kecewa.
Aku pernah berharap pada sesuatu yang entah akan terjadi atau tidak, hingga pada akhirnya ketika harapanku tak tercapai maka aku kecewa...
Aku juga selalu berharap pada sesuatu yang tak tentu dan ketika hal tersebut tak kunjung terpenuhi, maka aku kecewa.
Aku sering menangis, aku mengadu mengapa hal tersebut harus terjadi padaku.
Aku kesal, aku marah, aku tak tahu harus bagaimana, yang bisa kulakukan hanyalah menangis, berteriak didalam diamku.
Namun, aku bisa belajar dari hal-hal yang membuatku kecewa, aku sadar satu hal bahwa rasa kecewa itu yang membuatku kesal, marah, jengkel, menangis, kesemuanya itu karena satu hal, yaitu aku terlalu berharap pada manusia, aku terlalu berharap pada sesuatu yang entah, aku terlalu berharap pada sesuatu yang tak tentu...

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyrah: 8)
maka renungilah... 
(sebuah catatan untuk diriku)



Baca Selengkapnya

Surat untuk Mei


Mengapa kamu semakin jauh? Semakin tak terlihat, semakin tak tergenggam
Segala tanya diawal kalimat ini adalah yang ingin kutanyakan padamu, namun kusadar pasti tak akan terjawab! Sial!
Aku rindu, sangat, rindu ini tak berkesudahan.
Aku mencoba sabar karena aku yakin segala rindu akan menemui batasnya, segala tunggu akan berujung temu, meski entah kapan, aku pun tak tahu...
Apa kabarmu? Semoga kebaikan selalu menyertaimu.
Aku takut, aku khawatir tentang kamu, yang bahkan bukan sesiapaku.
Kamu dimana? Aku rindu pada sosokmu yang selalu mencoba menenangkanku.
Kalau boleh aku cemburu, aku cemburu pada mereka yang bisa dekat denganmu, yang bisa bertemu denganmu, tanpa mengenal batasan apapun. Namun sekali lagi aku harus sadar diri, aku bukan sesiapamu...
Aku bisa apa untuk menebus segala rindu pada jiwa yang entahlah merasakan yang sama atau tidak!
Aku berteriak dalam kesendirianku, mencoba berdamai dengan keadaan.
Dalam diam, dalam sujudku, aku pinjam namamu untuk kusampaikan pada Tuhan bahwa aku sangat rindu, bahwa aku ingin engkau selalu dalam lindungan-Nya.


Baca Selengkapnya

Wednesday, May 2, 2018

Surat untuk April


Adalah bulan yang penuh kesibukan, namun persetan dengan rindu yang tetap saja datang.
Mengapa demikian?
Adalah bulan yang sama seperti sebelumnya, yang sejauh dapat kukenang engkau tetap belum datang.
Adalah bulan masih penuh kenangan tentang dikau yang sembunyi dimana?
Aku harus menanyakan ke siapa? Bahwa aku masih rindu, bahwa aku hanya bisa terdiam.
Sebuah pesan tak jadi kukirim yang sejujurnya ingin sekali kusampaikan, namun ku tahu bahwa kau akan mengabaikanku untuk kesekian kalinya.
Mata sendumu menyiratkan tanda tanya,
Mulutmu yang hanya melontarkan sedikit kata, pun menyimpan rahasia.
Mengapa tak kau katakan saja, katakan yang sejujurnya, tapi kumohon jangan katakan kalau kau sudah tak mencintaiku karena itu teramat sangat menyakitkan!
Karena luka akibat masa dimana aku disakiti pun masih menyisakan trauma,
Namun kau sudah mengatakannya bahwa kau tak mencintaiku dan kata-kata itu masih terngiang dibenakku, mengapa kau setega itu?
Aku takut, takut kehilangan jiwa yang sejatinya bukan milikku!
Aku gundah, gundah karena memikirkan bagaimana seandainya semua ini tidak terjadi!
Aku rindu, aku ingin bertemu!

Semua yang kusebutkan adalah bentuk pernyataan atau pertanyaan yang pada akhirnya aku tak tau apa jawabnya karena kau hanya diam membisu. Dingin. 
Baca Selengkapnya

Thursday, March 22, 2018

Surat untuk Maret

Hari-hariku bergulir sangat monoton, kau tahu?
Biar kuceritakan sekalipun jika kau tak ingin tahu.
Aku punya tujuh hari dalam seminggu dan rasanya semua hari bergulir begitu saja, entahlah aku merasa ada yang berbeda, ada yang tak sama...
Rindu itu masih saja ada, dari waktu ke waktu ia semakin bertumbuh.
Kadang aku merasa bosan dan juga lelah, namun biar bagaimanapun kehidupan harus tetap berlanjut, waktu harus tetap bergulir dan aku harus tetap melangkah agar eksistensiku dalam hidup tetap ada.
Biar bagaimanapun, waktu sangat egois. Ia tak peduli apa yang terjadi pada kita.
Waktu sangat egois, ia tak mau tahu apa yang sedang kita rasakan, ya dia akan tetap berputar.
Waktu tidak peduli jika kita sedang patah hati. Waktu akan tetap bergulir dan berjalan menjauh meninggalkan kita.
Maka nikmati saja kehidupan yang sedang kau jalani, roda akan berputar bukan?
Semenyakitkan apapun kehidupan yang kau rasakan, maka waktu akan menyembuhkan.
Biarlah, biarkan saja waktu mengajarkan kau tentang kesabaran.
Maka melangkahlah, jangan pernah menyerah meski tak ada penyemangat.

Biarlah waktu menemanimu, mengajari, dan memberi pengalaman baru.
Baca Selengkapnya

Monday, February 26, 2018

Surat untuk Februari

Pada jiwa yang kusebut cinta,
Apa kabar?
Sudah sebulan lebih atau mungkin dua bulan atau entahlah berapa lama, perhitunganku tak tepat karena rasanya sudah sangat lama kita tak jumpa
dan selama itu kau menghilang dari peredaranku
Mengapa tiba-tiba sikapmu seperti itu?
Dingin. Aku coba bertanya A, kau jawab sekenanya.
Aku berikan B, kau meresponnya biasa saja.
Ada apa? Apakah aku ada salah padamu?
Tahukah kamu, aku hanya rindu. Ah persetan dengan rindu yang menggebu.
Tidakkah kau merasakan hal yang sama sepertiku?
Kurasa tidak! Semenyedihkan itu, aku hanya rindu sendiri, rinduku tak berbalas!
Inginku menangis berteriak hingga histeris.
Namun, apakah kau akan mendengarnya?
Kurasa tidak! kau telah berlalu jauh... dan aku masih menunggu di sini.
Biarlah, biar kupendam saja.
Sakit. Sakit sekali rasanya. Benar cintakah kamu?
Lalu kau menjawab;”maaf aku sudah tidak ada rasa lagi padamu.”
Kuburkanlah saja aku ini dengan ketidakbahagianku! Aku ingin hilang.
Biarlah aku hargai segala keputusanmu, ajarkan aku tentang bab mengikhlaskan dan juga tentang sabar.
Berikan aku waktu untuk mencerna segalanya, ini semua terlalu cepat terjadi dan rasaku padamu belum usai...
Izinkan aku untuk menyimpan rasa ini dan biarkan aku selalu menyebut namamu di doaku.
Seperti kata Pramoedya; “Dan pada akhirnya kasih sayang adalah juga benda...”
“Dan terima kasih atas februari yang basah, yang lekat wewangian hujan menciumi tanah.”
Terima kasih aku ucapkan padamu karena kamu adalah jiwa baik yang selalu membuatku mengagumimu dalam diamku.
Dan aku, sistem limbik otakku tidak akan lupa bagaimana rasa itu pertama kali muncul menawarkan kebahagiaan yang tak terkira. Dan semuanya akan menjadi sebuah keabadian, maka kenanglah...


Baca Selengkapnya

Saturday, January 6, 2018

Surat Untuk Januari

Aku butuh kamu.
Aku rindu kamu.

Sebelum kau memutuskan untuk pergi dariku, kau pernah berkata bahwa kau akan selalu ada kapanpun aku butuh. Pada kenyataannya kata-katamu itu semu, hanya sebagai penenang kala hatiku meradang. Mengapa kini kau semakin jauh? mengapa kau mendiamkanku? mengapa kau dingin padaku? Sebenarnya apa yang salah? apa yang membuatmu bersikap seperti itu? Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di benakku, tanpa kutahu apa jawabnya.
Aku tidak butuh status pacaran, yang aku mau kita tetap berteman. Aku ingin kau menjadi sahabatku, namun mengapa rasanya kau malah menghindariku. Aku pernah menjelaskan padamu bahwa aku trauma pada suatu hubungan, dan kau meyakinkanku bahwa kau akan menggantikan dia di hatiku, ah aku tak peduli yang jelas aku takut kehilangan dan aku benci perpisahan. Namun mengapa kau malah melakukan hal yang sama? membuatku teringat lagi dan merasakan rasa yang perih di hati. Apa kau tidak mengerti aku sakit sekali. Biar bagaimanapun aku tetap menghormati semua keputusanmu dan karena aku tau alasan mengapa kau melakukan itu, tetapi mengapa kau menjadi bersikap dingin padaku, tidak bisakah kau biasa saja, tidak bisa kah kau menjadi temanku? Apa aku semenyedihkan itu?
Jaga dirimu, jaga hatimu. aku pun begitu. 
Baca Selengkapnya

Surat Untuk Desember

Surat untuk Desember

Desember datang lagi dengan segala kenangan yang masih melekat di benak dan hati
Desember yang dingin, sedingin dirinya yang tiba-tiba pergi tanpa kata pamit, sampai jumpa, apalagi kata pisah
Desember yang pilu, yang pada hari itu dia memutuskan untuk pergi dariku, pergi bersama kekasihnya yang baru.
Desember yang kelabu, yang telah merenggut dia dari aku yang selalu merindu
Desember mengapa kau selalu seperti itu? Selalu saja menorehkan kenangan yang pahit untuk ku ingat, namun aku bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang dalam pedihnya bulanmu

Desember yang abu-abu, hanya ada hal itu dalam memoriku 
Baca Selengkapnya