Friday, February 5, 2021

Surat untuk Februari

Halo Feb, Februari maksudku.

Sudah Februari (lagi), bulan kedua dari dua belas bulan yang ada; bulan kasih sayang katanya.

Entah bagaimana asal-usulnya, kau menjadi simbol dari kasih sayang. Namun, aku sadari bahwa orang-orang yang tersayang terlahir di bulan ini. Jadi, aku setuju saja bahwa kau dilimpahi kasih sayang.

Semua berawal dari sini, surat yang tertulis di Februari.

Bintang dan bulan yang terbentang di kejauhan, berpendar di langit malam, tidak akan pernah diperbandingkan meskipun terlihat berdampingan.

Tiap entitas memiliki timeline hidupnya masing-masing, pun juga kesuksesan, kesempatan bersinar seluas kerlap-kerlip bintang di langit.

Bahwa individu memiliki peluangnya masing-masing. Gapai asa, kejar mimpi. Teruslah berlari.  

Kita adalah bintang di kehidupan kita, jadilah yang paling bersinar.

Jadi apa saja yang kau inginkan, jangan dibatasi, kau berhak atas hidupmu sendiri.

Berusaha terus lakukan yang terbaik, diiringi doa tanpa henti karena hasil tak akan mengkhianati.

Doa ini akan menembus ke keabadian, melampaui ruang dan waktu, semesta mendengarku.

Just enjoying your little step and moments. Everyone has their own timeline.

Setiap entitas diciptakan-Nya dengan potensi yang berbeda, setiap individu memiliki porsi bahagianya masing-masing. Maka bersyukurlah…

Baca Selengkapnya

Monday, January 4, 2021

Surat untuk Januari

Untuk bulan pertama dari dua belas bulan yang ada, hai selamat datang ya!

Jadilah awal yang baik sebagai lembaran baru dari tahun yang semakin sulit,

Jadilah pembuka dari segala kebaikan yang akan terjadi di halaman-halaman berikutnya,

Aku percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Hal-hal baik akan terjadi juga setelah penantian panjang penuh perjuangan.

Setiap entitas mengharapkanmu menjadi lembaran baru yang berbeda dari yang dulu.

Semuanya yang disemogakan akan berlabuh pada hal panjang yang akan terjadi kelak di hari depan.

Apapun itu, ya apapun yang menerpamu juga menerpaku, semuanya, segalanya, kita hanya minta satu; yaitu kuatkanlah bahumu, kuatkan bahuku guna menghadapi hari baru di masa yang akan datang nun jauh.

Aku tahu bahwa langkahku dan langkahmu tak beriringan selalu, tetapi doaku selalu menyertaimu.

meskipun semakin berat, tapi biarlah karena semuanya akan segera berlalu.

Bagaikan sebuah buku yang terdiri dari 365 halaman yang penuh cerita, pasti akan ada senyum, tangis, luka, dan tawa.  Namun, kuyakin sebuah kisah klise akan berakhir dengan bahagia begitupun kehidupan kita semua.

Kuatkan hati, kuatkan diri, semangatlah menjalani ini.

Bunga itu akan mekar secara perlahan, impian itu akan mencapai wujudnya.

Maka tenanglah, maka sabarlah, sebentar lagi kita akan menang, tunggulah, kuyakin kita akan sampai pada masa itu di hari depan nun jauh.

Selalu lakukan yang terbaik, maka akan menghasilkan yang lebih baik.

Baca Selengkapnya

Wednesday, December 9, 2020

Surat untuk Desember

Untuk bulan keduabelas setelah hari-hari berat yang menyesakkan, datang lagi dengan setumpuk harapan baru.

Untuk tahun yang penuh dengan air mata, ketakutan, kesendirian, dan segala hal yang tidak menyenangkan.

Hai, kumohon jadilah hal terakhir yang baik di tahun yang kebanyakan menilai tidak baik. Masih ada secercah harapan bukan? Ya, aku percaya karena setelah gelap, maka terbitlah terang. Setelah hujan deras, terbitlah reda, pelangi yang juga kadang membawa warna-warni yang baru.

Kau adalah penghujung, penutup, dan akhir dari segala yang telah terjadi di 366 hari, maka jadilah 31 hari-hari baik yang terwujud, jadilah keajaiban yang ditunggu-tunggu untuk datang, jadilah segala yang telah disemogakan.

Hal-hal baik dan kebahagiaan akan datang setelah perjuangan dan air mata, kuncup itu akan mekar juga menjadi bunga senyuman yang indah. Usaha keras tidak akan pernah menghianati hasil.

Meski masih ada ketakutan dan keraguan, tapi percayalah segalanya akan dipermudah.

Jangan takut pada luka dan sakit.

kuatkan hati, bulatkan tekad! apapun yang terjadi, jangan gentar!

Baca Selengkapnya

Saturday, November 7, 2020

Surat untuk November

Rinai hujan di November datang dan pergi setiap hari,

Langit hampir selalu kelabu, seketika menjadi sendu.

Segala hal dan bau hujan di hari yang panjang mengantarkan pada memori nan jauh di masa lalu,

Rasanya baru kemarin teriknya mentari menghampiri hari-hari yang dijalani,

Tetapi masa lalu menjauh, kau pun begitu.

Datang dan pergi seperti musim di dua belas bulan yang silih berganti.

Seperti suasana hati, pun berubah secepat kilat.

Kadang bahagia, ceria, menangis, bersemangat lagi, jatuh, bangkit lagi, terus berputar lagi.

Begitu juga ketakutan, pun kerap kali menghantui, pada hal-hal yang juga belum pasti, pada hari depan, bahkan saat ini.

Lalu terlintas dalam pikiran, memori itu sudah jauh sekali,

Ah aku rindu, pada hari dulu, pada masa lalu, di situ.

Lalu berkelibat lagi, hal-hal absurd yang adalah gambaran dari segala suasana hati.

Akankan kita bisa bertemu lagi, pada hari depan di tempat yang diinginkan.

Pada tekanan yang tak tertahankan, ingin kulampiaskan.

Pada suara-suara yang lagi memantul ke arah diri sendiri.

Oh wahai hati, wahai diri, tenanglah sekali lagi.

Segalanya berawal dari pikiran, kendalikanlah, pada hal-hal yang positif, pada hal-hal yang menyenangkan.

Tenanglah wahai diri, tenangkanlah hati wahai kawan, karena kupercaya kita akan menang.

Di hari jauh di masa depan, kita akan tersenyum bangga atas segala hal yang kita lalui, atas segala hal yang kita perjuangkan.

Kupercaya, maka bersemangatlah! Kita akan menang!

Baca Selengkapnya

Saturday, October 10, 2020

Surat untuk Oktober

Tentang ketidakpastian yang selalu mengganggu pikiran,

Pada kesibukan yang selalu mendatangi, pada kegelisahan yang terus menghantui, pada ketakutan yang sering menghinggapi,

Wahai diri, aku ingin kau mengerti.

It’s okay to not be okay, tidak apa-apa jika sekarang sedang merasa tidak baik-baik saja.

Semua rasa itu wajar; tertekan, stres, kecewa, merasa bersalah dan segala hal yang tidak diinginkan.

Menangislah jika ingin menangis, tumpahkan saja segala energi negatif itu.

Aku tahu hatimu terluka, pikiranmu penuh, bebanmu berat.

Namun, aku juga tahu bahumu kuat, hidupmu hebat.

Satu hal yang harus ditekankan, yaitu kamu tidak boleh menyerah karena aku percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Setiap orang pasti memiliki masalahnya masing-masing. Kamu pasti bisa tenang dalam keadaan sekeruh apapun.

Jangan cemas dan panik, coba ambil nafas sejenak, coba ingat dan lihat kembali ke belakang bahwa kamu telah melewati banyak hal yang lebih berat.

Lihat dirimu dan percayalah!

Hey kamu kuat, ayo bangkitlah!

 

Baca Selengkapnya

Thursday, September 3, 2020

Surat untuk September

Ketika aku merindumu, kamu merindunya.

Ketika aku ingin bertemu denganmu, kamu ingin dengannya.

Ketika aku ingin memiliki waktu bersamamu, kamu ingin bersamanya.

Setiap kali kamu datang padaku, selalu ada rasa senang sekaligus takut. Ya, aku senang karena kamu datang lagi, namun aku juga takut kamu pergi lagi. 

Bukankah itu siklus kehidupan? Atau itu siklus rasa yang tak abadi?

Entahlah, yang aku tahu pasti bahwa aku ingin kamu menetap.

Aku tahu, terselip keraguan pada pertanyaan yang kau utarakan. Apakah kau sebegitu ingin tahunya alasan di balik rasa ini? Bukankah tidak semua hal selalu mempunyai alasan? Ya, tentu semua ada prosesnya.

Setiap teringat hal itu selalu tersemat rasa takut, pada hal-hal yang belum pasti, pada rasa yang tak abadi, pada janji yang mungkin tak bisa ditepati, pada kepastian yang tidak pasti.

Pada hari esok, lusa, dan hari jauh di masa depan, akankah aku selalu merasa aman?

Tentang ketidaksempurnaan, bukankah kita semua tidak sempurna? Mengapa tak saling melengkapi?

Jangan mencari yang sempurna baru kamu bahagia, tetapi terimalah ketidaksempurnaan itu baru kamu bisa bahagia.

Tentang kebahagiaan, mengapa selalu menanyakan hal ini? Bagaimana kamu mendefinisikannya?

Aku, sederhana saja, ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu lainnya terbuka. Namun, seringkali kita terlalu lama melihat pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak bisa melihat pintu yang terbuka bagi kita.

Maka lihatlah lebih dekat, sadarilah, mengertilah, dan bersyukurlah.

Baca Selengkapnya

Saturday, August 15, 2020

Surat untuk Agustus

Pertanyaanmu kala itu masih mengganggu pikiranku. Bagaimana mungkin aku mencari laki-laki lain! Bagaimana mungkin! Mengapa kau harus bertanya demikian? Apakah kau tahu bagaimana aku selama ini menjaga hati untuk siapa? Untuk siapa lagi kalau bukan untukmu!

Lantas mengapa kau merasa bingung? aku bingung mengapa kau bingung dan aku bingung mengapa aku harus bingung. 

Perasaan ini kurawat dengan kesabaran dan harapan-harapan baik, pun ku selalu berpikiran positif tentangmu. Apakah kau belum juga melihat tulusku? Mengapa kau meragukanku? 

Ya, memang ini pertanyaan retoris. Memantul ke arah diriku lagi karena kau belum juga akan menjelaskannya atau bahkan sama sekali tak berniat untuk menjelaskannya. Pada akhirnya aku yang harus merenung dan merefleksikannya.

Kenyataan bahwa tidak (lagi) dicintai oleh orang yang dicinta membuat terbentuknya sebuah rasa sadar diri yang menggiring pada keadaan yang tidak baik-baik saja. Mungkin akan berpura-pura menjadi terlihat baik-baik saja agar dilabeli sebagai manusia kuat. 

Aku menyadari bahwa ada alasan di balik segala sikapmu, aku mengerti bahwa segala sesuatu terjadi pasti ada penyebabnya. Komunikasi memang penting agar tidak terjadi sebuah kesalapahaman, namun aku mengerti bahwa tidak segala hal bisa diceritakan dan ada hal yang memang belum bisa dijelaskan saat ini, maka yang hanya bisa dilakukan adalah bersabar sampai kau bisa berbagi cerita.

Dalam kebingungan yang melingkupi pikiran, dalam renungan yang panjang, dalam kesendirian. Aku teringat saat kau bercerita tentang kisah di masa lalumu. Kini aku paham bahwa memang masih ada memorimu tentang seseorang dari masa lalu yang pernah menghiasi hari-harimu. Aku mengerti hatimu pasti sakit sekali. Kini, biar kuberi sedikit kata-kata; tahukah kamu bahwa tahap mencintai yang paling tinggi adalah saat kau bisa mengikhlaskan kepergian seseorang entah itu berpisah karena maut atau dia pergi meninggalkanmu demi seseorang pilihannya yang membuatnya lebih bahagia. 

Selamat menikmati kesakitan yang tak bisa kau tahan. Selamat menikmati kehampaan yang tak berujung. Selamat menikmati tangisan yang tak lagi bersuara.

Namun, satu hal yang harus kau tahu bahwa kesedihanmu jangan berlarut-larut. Kebahagianmu ada pada dirimu sendiri, bukan pada entitas lain. Tersenyumlah dan bangkitlah. Bersyukurlah karena kau layak dicinta. 

Dalam ruang kedap rasa, semoga kamu mengerti bahwa aku begitu berarti. 


Baca Selengkapnya